Arsip untukSastra

THE GREATEST

Angin masih berhembus. Butir-butir pasir masih beterbangan. Awan2 hitam belum lagi pergi. Tangisan langit belum lagi reda. Aliran darah kami masih deras walaupun ia tidak akan berhenti tertumpah. Bebatuan masih keras berbicara, saat kami memaksa bicara. Kami kandung bebatuan itu, lalu kami sandang kalimat suci. Jernih mata kami memandang. Lelah sudah lama kami lupakan. Angan kami jauh menerawang kebelakang. Saat cahaya masih terang benderang. Saat matahari diatas cakrawala, mengambang. Diri2 hangat. Senyum tak pernah habis. Hati tak pernah duka tunas2 tumbuh dibawah lindungan keperkasaan. Bunga-bunga mekar tanpa ada yang berani merenggutnya dengan paksaan. Pikiran melesat menembus batas angkasa raya. Cita2 mulia menyelimuti dunia. Manusia aman sentosa tanpa cela. Mereka tidak pernah berhenti membesarkan penciptanya.
Angan kami jauh menerawang kebelakang. Saat cahaya masih terang benderang. Saat matahari masih menyinari diri diatas cakrawala, mengambang. Kami jaga dia. Keringat dan darah rela kami persembahkan untuknya. Hanya dia yang akan memberi kami segala-galanya. Hanya dengan dia kami akan melawan semuanya. Dia diri kami. Dia kekuatan kami. Dia nafas kami. Dia nyanyian hidup kami. Keringat dan darah pasti akan kami persembahkan untuk membelanya. Demi diri kami sendiri. Juga demi siapapun yang lahir setelah kami. Ratusan tahun dunia tunduk. Ratusan tahun manusia takluk. Mereka hargai dan takuti kami, karenanya. Bumi jadi tempat yang megah. Dimana setiap jiwa terjaga dari dosa. Dimana setiap harapan punya tempat yang terang untuk diwujudkan. Dimana mawar2 merah dijaga kehormatannya. Dimana taman-taman bunga semerbak mengharumi dunia. Saat orang lain gelap hitam. Kami merajai dunia, karenanya. Saat orang lain buta, mata kami terang ditunjukinya. Ketinggian kami tidak mungkin dijamah karena dia. Kami jaga dia. Segala yang kami punya rela kami persembahkan untuknya. Demi diri kami sendiri. Demi siapapun yang lahir setelah kami….
Waktu orang lain sesat, kami tetap lurus dirunjukinya. Waktu orang lain tidak punya tempat bergantung,kami kokoh kuat ditopangnya. Mereka berdiri dengan pongah. Merasa iri dan tidak tahu diri. Merka menghancurkan kami dari segala arah. Tapi dengannya, tidak ada satu makhlukpun yang mampu mengalahkan kami. Hingga suatu saat, perlahan-lahan, cahayanya mulai pudar menyinari dalam diri kami. Awan mendung turun mengitari diri kami. Semua mulai gelap. Hingga cahayanya pergi. Keagungan kami hilang. Kesabaran kami punah, karena salah kami sendiri. Bunga yang mekar hancur direnggut orang. Tunas-tunas yang tumbuh hancur dipotong parang. Makhluk sesat maju menyerbu kami dengan garang.
Dia sudah pergi tak ada lagi dari diri kami. Sesuatu yang seharusnya kami sadari. Diri-diri kami diinjak-injak orang. Tak pernah ada lagi kemuliaan. Darah kami tak pernah berhenti ditumpahkan, hanya karena tamak, iri dan kegilaan. Badan kami dikoyak-koyak. Gelap, sudah sempurna menyelimuti dunia. Cahayanya sudah pergi tak ada lagi sentosa. Harapan sudah putus, pupus mereka cabik. Nafas-nafas kami sudah tercekat dihambat merka makhluk-makhluk sesat. Mereka berkeliaran. Liar nyala matanya. Darah dari senyumnya. Hunus belati ditangannya. Pongah mereka dalam tegaknya. Mereka merasa menang. Kegelapan akan terus mereka sebarkan, tanpa menyisikan satu cahaya saja. Mereka jahat. Sejahat iblis dineraka.
Satu hal…….. cahayanya tidak akan pernah hilang. Jika dia hilang dari diri-diri kami, kami akan menyalakannya lagi. Akan kami jaga dia. Akan kami serahkan nyawa, keringat dan darah kami padanya, demi diri kami sendiri. Juga demi siapapun yang ada setelah kami. Karena dia adalah kami. Dialah nyanyian hidup kami. Dialah nafas kami. Dia kekuatan kami. Dengannya, akan kami lawan semuanya. Angan harus dihentikan. Bebatuan tidur dalam genggaman. Kalimat suci wajib kami junjungkan. Kami punya masa lalu yang cemerlang, yang akan kami kembalikan seutuhnya. Dengannya sebagai penunjuk jalan. Penerang dikegelapan. Hingga kemuliaan ada pada diri kami lagi. Kami menyongsong segalanya. Dengan dia sebagai kekuatan. Demi diri kami sendiri, juga demi siapapun yang lahir setelah kami.
Jernih mata kami memandang…lelah sudah lama kami lupakan…kini saatnya untuk berjuang… mengembalikan segalanya yang Telah lama hilang…[]

The Never land

It’s extremely amazing place nobody has ever seen that before, or let me call this with the never land, dream land or wonder land…..whatever!! Even though, I didn’t find any magician here like Hogwart; Harry Potter’s school, the flying boys and the pirates like in the fairy tail of Peter Pan, let alone a god family as the mythology of Hercules; Zeus’ son from Olympus, but the place I described was different with the others.
The area was enormous, it was surrounded by green mountains, forests, blue lake and sea, covered by unimaginable sceneries and magnificent buildings like a castle and adorned by the sound of wild animals from the forests, while splashing of waves heard clearly from the sea. An enormous mosque stood in the centre with four high minarets surrounded it, those faced the sky as if challenged the width of it.
The marvelous thing, the people lived here were from the whole tribe and race in the earth, they had a different cultures and religions, but they could live in peace within one place, even one house. They were very kind; every time they meet they used to guess one each other. Arabic was the language they used to speak, so it wasn’t strange to know how they understood Koran; holy book of Islam religion well and practiced it in their daily life.
Honestly, I didn’t know how the way I came here, I couldn’t cram enough into my head, the one I still remembered, I came to the classroom and sit, then a beautiful girl came and brought me here, she wore a grey veil. The spectacles in her face showed how brilliant she was. I felt she wasn’t somebody else for me, I ever recognized her face, but I forgot her name. Her sweet smile to me added the beating of my heart; she was too elegant to see.
The girl then told everything about this land, she spoke Arabic and said this area namely Caliphate Nation with sharia law as the system, therefore the land came into prosperity and peace because Islam was held and done here. Her story reminded me about Indonesia; republic nation used secularism and capitalism as the system for public. No sharia law in that country to this very day, therefore the country was full with the chaos everyday. I hated Indonesia, but I couldn’t leave it anyway, Indonesia was my homeland.
I had just remembered, I had been together for some times with the girl, but I still didn’t know her name, and the answer shocked me as I ordered her to introduce her self, she said, I was her husband, then she looked at me deeply. I tried to find a lie in her eyes but it was nothing, suddenly she approached me and held my hand tightly, then she tried to kiss me. I could do nothing to prevent her want and suddenly my sight blurred; everything faded away. No land with beautiful scenery and the kind residents, no beautiful girl with a grey veil and spectacles and no kiss. Everything disappeared. The one left was my self on the chair of classroom. I had just dreamed….
Several minutes ago, I came to the classroom to officiate the meeting of my organization, but nobody came, then I waited, fell a sleep and dreamed. I rubbed my eyes to make me realize I wasn’t dreaming anymore. I started to open the book I brought. Read the book, I heard the door was knocked, a beautiful girl wore a grey veil and spectacles came inside. She was the student of Arabic letters department, also the treasurer of my organization. To see her in a glance, I knew, she was the girl in my dream. (R.Bagus M.E.P.-06320053)