Arsip untukLKTI Fauzan

LKTI fauzan Th 2008

MEMBANGUN SISTEM PENDIDIKAN ISLAM
MENUJU INDONESIA LEBIH BAIK

Karya Tulis
Dibuat Guna Mengikuti Lomba Karya Tulis Mahasantri se-Ma’had Sunan Ampel Al-‘Aly.
Dengan tema: Revitalisasi Pendidikan Islam Menuju Kebangkitan Hakiki
Tahun 2008

oleh
Fauzan

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MALANG
MA’HAD SUNAN AMPEL AL-‘ALY
MABNA IBNU SINA
2008
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbila’lamin, hanya kita peruntukan kepada Allah swt. Dengan rahmat-Nya karya tulis ini dapat saya selesaikan. Salawat beriring salam kita sanjungkan kepada Nabi Muhammad saw, karena beliau adalah panutan kita dalam menjalani hidup ini.
Karya tulis ini dibuat guna mengikuti Lomba Karya Tulis Mahasantri se-Ma’had Sunan Ampel Al-‘Aly, Tahun 2008 dengan judul “Membangun sistem pendidikan islam menuju Indonesia lebih baik”. Hasil yang diperoleh dalam karya tulis ini diharapkan dapat memberikan deskripsi serta sumbangan pemikiran berupa analisis permasalahan serta solusinya tentang sistem pendidikan yang baik untuk diterapkan di Indonesia serta diharapkan oleh semua pihak.
Dalam penulisan karya tulis ini, saya banyak dibantu oleh berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini kami sampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1.Bapak Ahmad Syakirin Asmu’I, Lc. MA. Yang telah banyak memberikan masukan dalam tulisan ini.
2.Semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu yang dengan sukarela telah memberi bantuan kepada kami sehingga karya tulis ini dapat kami selesaikan.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa karya tulis ini masih saja terdapat kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya konstruktif demi kesempurnaan karya tulis ini, kami terima dengan senang hati. Akhirnya karya ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pembaca

Malang, 08 Juli 2008
Penulis

ABSTRAK

Karya tulis ini berjudul “Membangun Sistem Pendidikan Islam Menuju Indonesia Lebih Baik”. Secara rinci masalah diklasifikasikan menjadi dua macam yaitu (1) sistem pendidikan Indonesia yang berasaskan sekularisme telah terbukti gagal menghantarkan manusia menjadi sosok pribadi yang utuh, yakni seorang Abidu al-Shalih yang muslih. , (2) Bagaimana sistem pendidikan islam sebagai alternative pendidikan lebih baik dari sistem pendidikan sekuler, dan (3) Bagaimana konsep dasar pendidikan islam yang mampu mengantarkan Indonesia menjadi lebih baik?
Penulisan ilmiah ini bertujuan untuk (1) Mendeskripsikan kelemahan sistem pendidikan sekuler yang ada sekarang, (2) Mendeskripsikan kelebihan sistem pendidikan islam sebagai alternatif pendidikan yang baik, dan (3) Mendeskripsikan konsep sistem pendidikan islam secara komprehensif.
Dari pemaparan kelemahan sistem pendidikan sekuler-materialistik yang ada sekarang terdapat banyak kelemahan, Sistem pendidikan semacam ini terbukti telah gagal melahirkan manusia shaleh yang sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan melalui penguasaan sains dan teknologi. sekularisasi pendidikan menghasilkan dikotomi pendidikan yakni antara pemisahan antara pendidikan “agama” dengan pendidikan umum
Berdasarkan deskripsi ternyata terdapat sistem pendidikan alternatif yang dapat dijadikan teladan bagi sistem pendidikan yang baik dan telah terbukti berhasil mencetak anaka didiknya menjadi manusia shaleh yang sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan melalui penguasaan sains dan teknologi.
Dari paparan analisis yang sangat jelas maka, sangat diperlukan adanya suatu solusi alternative terhadap pendidikan yang ada di Indonesia yaitu dengan menerapkan sistem pendidikan islam. Di dalam sistem pendidikan islam, terdapat 3 tujuan pendidikan yaitu; mampu menghasilkan keluaran (output) peserta didik yang berkepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyyah), menguasai tsaqofah Islam dan ilmu-ilmu kehidupan (iptek dan keahlian). Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan adanya paradigma yang jelas terhadap asas pendidikan. Unsur pelaksana pendidikan Struktur kurikulum harus diperbaiki sesuai dengan asas pendidikan. dana, sarana dan prasarana pendidikan dikelola oleh Negara yang mempunyai otoritas terhadap pendidikan.

DAFTAR ISI

Kata Pengantar i
Abstrak ii
Daftar Isi iii
Daftar Tabel iv
Bab I
Latar Belakang 1
Rumusan Masalah 2
Tujuan Karya Tulis 2
Manfaat Karya Tulis 3
Bab II
Analisis Masalah 4
Solusi dan Konsep Sistem Pendidikan Islam 9
Bab III
Simpulan 19
Saran 21
Daftar Pustaka 22
Biodata Peserta 23
Daftar Lampiran 24

DAFTAR TABEL DAN BAGAN

Bagan skematis akar dan solusi masalah kehidupan 24
Bagan Akar masalah pendidikan dan solusi fundamentalnya 25
Bagan ideal orientasi pendidikan integral 26
Bagan solusi unsure pelaksana pendidikan alternative idealis 26
Bagan skematis fakta dan solusi problematika pendidikan di sekolah/kampus 26
Tabel struktur dan performa komponen kurikulum 27
Tabel pendekatan terpadu pembentukan syakhsiyah islamiyah 27
Tabel indikator kematangan syakhsiyah islamiyah siswa/mahasiswa 28
BAB I
PENDAHULUAN
Bagian ini menguraikan tentang (1) latar belakang, (2) rumusan masalah, (3) tujuan karya tulis dan (4) mamfaat karya tulis. Hal tersebut akan dijelaskan berikut ini.

1.1Latar belakang
Salah satu persoalan rumit yang dihadapi oleh masyarakat, selain ekonomi dan politik, adalah persoalan pendidikan. Ketika tawuran antar pelajar marak terjadi di berbagai kota, ditambah dengan sejumlah perilaku mereka yang sudah tergolong kriminal, penyalahgunaan narkoba dan meningkatnya seks bebas di kalangan pelajar, dunia pendidikan kembali dituding telah gagal membentuk watak mulia pada anak didik. Pendidikan yang diharapkan dapat memperbaiki kondisi Negara Indonesia yang terpuruk menjadi lebih baik justru menjadi masalah baru bagi Negara yang tercinta ini, yusanto(dalam geocities.com)
Selanjutnya yusanto menjelaskan, Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia agar menjadi lebih baik. Tetapi upaya yang telah dilakukan belum memberikan hasil yang berarti apalagi mencapai sebuah kebangkitan yang hakiki. Pendidikan Indonesia yang cenderung sekuleristik justru semakin memperparah keadaan karena telah menghilangkan nilai-nilai transedental pada semua proses pendidikan. Sistem pendidikan sekuleristik terbukti telah gagal melahirkan manusia shaleh yang sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan melalui penguasaan sains dan teknologi. Karena itu dibutuhkan solusi yang komprehensif dan fundamental terhadap sistem pendidikan yang ada di Indonesia.
Kualitas pendidikan di Indonesia sangat memprihatinkan. Ini dibuktikan antara lain dengan data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan, bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999). Al-jawi(dalam www.mii.fmipa.ugm.ac.id, 2008:9)
Alasan yang mendorong penulisan karya tulis ini adalah (1) guna mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasantri se-ma’had sunan ampel al-aly, (2) masih belum ditemukannya solusi yang komprehensif terhadap pendidikan yang baik untuk diterapkan di Indonesia, (3) mendeskripsikan kondisi pendidikan di Indonesia (4) mendeskripsikan konsep sistem pendidikan islam sebagai alternatif pendidikan yang tepat diterapkan di Indonesia. Sistem pendidikan yang salah dan tanpa arah tujuan yang jelas, tidak tertutup kemungkinan dapat menyebabkan terjadinya stagnan pendidikan di Indonesia serta dapat merusak masa depan generasi bangsa. Karya tulis dengan tema “revitalisasi pendidikan islam menuju kebangkitan hakiki” ini diharapkan dapat memberikan deskripsi serta sumbangan pemikiran berupa analisis permasalahan, solusi serta konsep dasar sistem pendidikan islam sebagai sistem pendidikan alternatif di Indonesia. Adapun judul lengkap karya tulis ini adalah ”Membangun Pendidikan Islam Menuju Indonesia Lebih Baik”.

1.2Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, secara umum masalah dalam karya tulis ini adalah “bagaimanakah konsep sistem pendidikan dalam islam?”. Masalah umum secara rinci dapat menjadi sub masalah sebagai berikut :

1)Bagaimanakah kelemahan pendidikan di Indonesia yang cenderung sekuleristik?
2)Bagaimanakah konsep sistem pendidikan islam sebagai alternatif sistem pendidikan yang baik diterapkan di Indonesia?

1.3Tujuan Karya Tulis
Berdasarkan masalah yang telah ditetapkan, karya tulis ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi tentang konsep sistem pendidikan islam dan mendeskripsikan . Tujuan karya tulis secara rinci dapat dikemukakan sebagai berikut :
1)Mendeskripsikan kelemahan sistem pendidikan di Indonesia yang cenderung sekuleristik.
2)Mendeskripsikan kelebihan sistem pendidikan islam sebagai alternatif sistem pendidikan Indonesia.
3)Mendeskripsikan konsep sistem pendidikan islam secara fundamental.

1.4Manfaat Karya Tulis
Hasil karya tulis ini diharapkan dapat memberikan deskripsi secara fundamental tentang konsep sistem pendidikan islam. Untuk itu diharapkan hasil karya tulis ini mampu memberikan manfaat secara teoritis dan praktis sebagai berikut.
Secara teoritis hasil karya tulis ini memberikan kontribusi yang berarti karena dapat dimanfaatkan untuk (1) menambah kajian khasanah sistem pendidikan khususnya tentang sistem pendidikan islam, (2) memberikan informasi empiris dan idealistis tentang sistem pendidikan islam, dan (3) di terapkan pada sistem pendidikan di Indonesia.
Secara praktis hasil karya tulis ini dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi (1) penulis, (2) instansi terkait dan (3) masyarakat. Bagi penulis hasil penulisan ini dapat dijadikan sebagai dasar untuk mengadakan penulisan lebih lanjut, bagi instansi terkait dapat menambah referensi tentang sistem pendidikan islam sebagai alternatif sistem pendidikan di Indonesia, sedangkan bagi masyarakat karya tulis ini memberikan masukan serta pengetahuan tentang konsep sistem pendidikan islam.

BAB II
ISI
Bab ini akan memaparkan dan mendeskipsikan (1) analisis rumusan masalah tentang kelemahan sistem pendidikan di Indonesia yang cenderung sekuleristik dan kelebihan sistem pendidikan islam sebagai alternatif sistem pendidikan di indonesia (2) solusi sistem pendidikan di indonesia dan konsep fundamental sistem pendidikan islam sebagai alternatif sistem pendidikan islam. Hal tersebut akan dijelaskan berikut ini.

2.1Analisis Rumusan Masalah
1.Bagaimanakah kelemahan sistem pendidikan di Indonesia yang cenderung sekuleristik?
Ada beberapa kelemahan dari sistem pendidikan di Indonesia yang cenderung sekuleristik dan harus diganti dengan sistem pendidikan islam demi menyelamatkan masyarakat Indonesia dari kebobrokan di bidang pendidikan (Lihat Bagan Skematis Akar dan Solusi Problematika Kehidupan), kelemahan-kelemahan tersebut adalah sebagai berikut:
1.1Berdasarkan hasil survei Political and Economic Risk Consultancy (PERC) yang berpusat di Hongkong pada tahun 2001 saja menyebutkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia terburuk di kawasan Asia, yaitu dari 12 negara yang disurvei, Korea Selatan dinilai memiliki sistem pendidikan terbaik, disusul Singapura, Jepang dan Taiwan, India, Cina, serta Malaysia. Indonesia menduduki urutan ke-12, setingkat di bawah Vietnam (www.kompas.com).
1.2Al-jawi (dalam www.mii.fmipa.ugm.ac.id, 2008:7) menjelaskan, diakui atau tidak sistem pendidikan yang berjalan saat ini adalah sistem pendidikan yang sekuler-materialistik. Hal ini dapat terlihat antara lain pada UU Sisdiknas No 20 tahun 2003 bab VI tentang jalur, jenjang, dan jenis pendidikan bagian kesatu (umum) pasal 15 yang berbunyi: Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, advokasi, keagamaan, dan khusus. Hal ini jelas adanya dikotomi pendidikan yaitu pendidikan agama dan pendidikan umum. Sistem pendidikan dikotomis semacam ini terbukti telah gagal melahirkan manusia salih yang berkepribadian Islam sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan sains dan teknologi.
1.3Selain itu hakim(dalam www.hakim20.wordpress.com, 2008:7) melanjukan, BAB VI pasal 15 juga tampak pada BAB X pasal 37 UU Sisdiknas tentang kurikulum pendidikan dasar dan menengah yang mewajibkan memuat sepuluh bidang mata pelajaran dengan pendidikan agama yang tidak proposional dan tidak dijadikan landasan bagi bidang pelajaran lainnya. Ini jelas tidak akan mampu mewujudkan anak didik yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional sendiri, yang dikarenakan kurilulum saat ini berawal dari asasnya yang sekuler. Pendidikan yang sekuler- materialastik ini memang bisa melahirkan orang yang menguasai sains-tekhnologi melalui pendidkan umum yang diikutinya. Akan tetapi pendidikan semacam ini terbukti gagal membentuk kepribdian peserta didik dalam penguasaan tsaqafah Islam. Sebaliknya yang belajar dilingkungan pendidikan agama memang menguasai tasqafah Islam dan secara relatif sisi kepribadiannya tergarap baik. Akan tetapi, disisi lain ia buta terhadap perkembangan sains dan tekhnologi.(dalam hakim20.wordpress.com)
1.4Sistem pendidikan sekarang ini jelas tidak akan mampu mewujudkan anak didik yang sesuai dengan tujuan dari pendidikan nasional sendiri, yaitu mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Kacaunya kurikulum ini tentu saja berawal dari asasnya yang sekular, yang kemudian mempengaruhi penyusunan struktur kurikulum yang tidak memberikan ruang semestinya bagi proses penguasaan tsaqâfah Islam dan pembentukan kepribadian Islam, Al-jawi (dalam www.mii.fmipa.ugm.ac.id, 2008:9).
1.5Tidak berfungsinya guru/dosen dan rusaknya proses belajar mengajar tampak dari peran guru yang sekadar berfungsi sebagai pengajar dalam proses transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), tidak sebagai pendidik yang berfungsi dalam transfer ilmu pengetahuan dan kepribadian (transfer of personality), karena memang kepribadian guru/dosen sendiri banyak tidak lagi pantas diteladani. Lingkungan fisik sekolah/kampus yang tidak tertata dan terkondisi secara Islami (ditambah dengan minimnya sarana pendukung, seperti masjid/mushola) turut menumbuhkan budaya yang tidak memacu proses pembentukan kepribadian peserta didik. Akumulasi kelemahan pada unsur sekolah/kampus itu akhirnya menyebabkan tidak optimalnya pencapaian tujuan pendidikan yang dicita-citakan. Pembentukan karakter siswa yang merupakan bagian terpenting dari proses pendidikan di sini justru kurang tergarap secara serius. Agama ditempatkan sekadar sebagai salah satu aspek yang perannya sangat minimal, bukan menjadi landasan dari seluruh aspek. Di sisi lain, pengajaran agama dan persoalan keagamaan digarap oleh Depag, seolah pendidikan Islami identik dengan pengajaran agama Islam saja, yusanto(dalam www.geocities.com, 2008:4).
1.6Adanya pesantren yang dalam banyak aspek acap dipuji sebagai sebuah bentuk pendidikan Islam alternatif, dalam perspektif ini, sesungguhnya makin mengukuhkan dikotomi pendidikan itu karena telah membuat jarak yang cukup jauh antara pendidikan agama dengan pendidikan umum. Selain itu pendidikan yang sekuler-materialistik ini memang bisa melahirkan orang yang menguasai sains dan teknologi melalui “pendidikan umum” yang diikutinya, tapi pendidikan semacam itu terbukti gagal membentuk kepribadian peserta didik dan penguasaan tsaqofah Islam. Akhirnya, sektor-sektor modern (industri manufaktur, perdagangan dan jasa) diisi oleh orang-orang yang relatif awam terhadap agama karena orang-orang yang mengerti agama terkumpul di dunianya sendiri (madrasah, dosen/guru agama, depag), tidak mampu terjun di sektor modern, yusanto(dalam www.geocities.com, 2008:4).
1.7Pendidikan sekuler-materialistik juga memberikan kepada siswa suatu basis pemikiran yang serba terukur secara material, kekinian dan serba profan serta memungkiri hal-hal yang bersifat transedental dan imanen. Disadari atau tidak, berkembang penilaian bahwa hasil pendidikan haruslah dapat mengembalikan investasi yang telah ditanam. Pengembalian itu dapat berupa gelar kesarjanaan, jabatan, kekayaan atau apapun yang setara dengan nilai materi yang telah dikeluarkan. Agama ditempatkan pada posisi yang sangat individual. Nilai transendental dirasa tidak patut atau tidak perlu dijadikan sebagai standar penilaian sikap dan perbuatan. Tempatnya telah digantikan oleh etik yang pada faktanya bernilai materi juga, yusanto(dalam www.geocities.com, 2008:4)
1.8Dalam sistem sekuler, aturan-aturan, pandangan dan nilai-nilai Islam memang tidak pernah secara sengaja digunakan untuk menata berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan. Agama Islam, sebagaimana agama dalam pengertian Barat, hanya ditempatkan dalam urusan individu dengan tuhannya saja. Maka, di tengah-tengah sistem sekuleristik tadi lahirlah berbagai bentuk tatanan yang jauh dari nilai-nilai agama. Yakni tatanan ekonomi yang kapitalistik, perilaku politik yang oportunistik, budaya hedonistik, kehidupan sosial yang egoistik dan individualistik, sikap beragama yang sinkretistik serta paradigma pendidikan yang materialistik.yusanto(dalam www.geocities.co.).

2.Bagaimanakah sistem pendidikan islam sebagai alternatif pendidikan yang ada di indonesia?
Dari hasil paparan tentang kelemahan sistem pendidikan sekuler ternyata terdapat alternatif sistem pendidikan yang baik diterapkan di Indonesia. Diuraikan sebagai berikut:
2.1Khilafah Islam membuka pintu pendidikan seluas-luasnya kepada masyarakat tanpa biaya sepeserpun. Wajib hukumnya bagi Negara untuk memenuhi dan mempersiapkannya dengan cara membangun dan melengkapi sarana dan prasarana untuk kelancaran pendidikan disetiap jenjang pendidikan(lihat Al baghdadi Sistem Pendidikan di Masa Khilafah Islam, hal 61)
2.2Sistem pendidikan islam mampu menghasilkan keluaran (output) peserta didik yang berkepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyyah), menguasai tsaqofah Islam dan ilmu-ilmu kehidupan (iptek dan keahlian). (lihat Al baghdadi Sistem Pendidikan di Masa Khilafah Islam, hal 25)
2.3Di zaman pemerintahan Islam, paling tidak semenjak 4 H telah banyak dibangun sekolah Islam. Tetapi sebelum sekolah semodel itu dikembangkan, pendidikan ketika itu dilakukan di dalam masjid, majelis-majelis taklim dan tempat-tempat pendidikan lainnya. Muhammad Athiyah Al Abrasi dalam buku Dasar-dasar Pendidikan Islam, memaparkan usaha-usaha para khalifah untuk membangun sekolah-sekolah itu. Dalam perkembangannya, setiap khalifah terus membangun sekolah tinggi Islam dan berusaha melengkapinya dengan sarana dan prasarananya.
2.4Pendidikan dalam pandangan Islam merupakan upaya sadar, terstruktur serta sistematis untuk mensukseskan misi penciptaan manusia sebagai abdullah dan khalifah Allah di muka bumi. Sebagai bagian integral dari sistem kehidupan Islam, sistem pendidikan memperoleh masukan dari supra sistem, yakni keluarga dan masyarakat atau lingkungan, dan memberikan hasil/keluaran bagi suprasistem tersebut. Di dalam lingkungan inilah, hasil pendidikan efektivitas dan efisiensi proses pendidikan yang berlangsung dapat dibuktikan. Dari hasil pendidikan ditambah interaksi dengan lingkungannya, sistem pendidikan memperoleh umpan balik yang dapat digunakan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu proses pendidikan. Adanya kesinambungan tujuan pendidikan dalam setiap jenjang pendidikan sekolah (formal). Kurikulum pendidikan Islam sendiri sangatlah khas, unique. Tampak pada penetapan tujuan/arah pendidikan, unsur-unsur pelaksana pendidikan serta asas dan struktur kurikulum, yusanto (dalam www.geocities.com, 2008:4).

2.2Solusi dan Konsep Sistem Pendidikan Islam
Dari paparan di atas yang berkenaan dengan kelemahan yang sangat fundamental dari sistem pendidikan sekuler-materialistik dianggap perlu untuk mengganti sistem pendidikan ini menjadi sistem pendidikan islam yang terbukti jauh lebih baik untuk mencapai Indonesia lebih baik. Mengenai Sistem Pendidikan Allah SWT befirman:
                                
Artinya: Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.(Al-Mujadillah[58]:11)
Karena itu perlu di paparkan solusi serta konsep secara fundamental sistem pendidikan islam yaitu sebagai berikut :
1Solusi pada Tataran Paradigmatik.
Secara paradigmatik, pendidikan harus dikembalikan pada asas aqidah Islam yang bakal menjadi dasar penentuan arah dan tujuan pendidikan (Lihat Bagan Skematis Akar Masalah Pendidikan dan Solusi Fundamentalnya). Paradigma baru pendidikan yang berasas aqidah Islam itu semestinya juga harus berlangsung secara berkesinambungan mulai dari TK hingga Perguruan Tinggi yang pada ujungnya nanti diharapkan mampu menghasilkan keluaran (output) peserta didik yang berkepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyyah), menguasai tsaqofah Islam dan ilmu-ilmu kehidupan (iptek dan keahlian). Langkah yang diperlukan adalah optimasi pada proses-proses pembentukan kepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyyah) dan penguasaan tsaqofah Islam serta meningkatkan pengajaran sains-teknologi dan keahlian sebagaimana yang sudah ada dengan menata ontologi, epistemologi dan aksiologi keilmuan yang berlandaskan pada nilai-nilai Islam, sekaligus mengintegrasikan ketiganya seperti yang tampak pada Bagan Solusi Orientasi Pendidikan. Optimasi dan Integrasi. Ketiga unsur tersebut harus merupakan satu kesatuan yang utuh. Al-jawi (dalam www.mii.fmipa.ugm.ac.id, 2008:7)
2Solusi pada Tataran Strategi Fungsional
Pendidikan yang integral harus melibatkan tiga unsur pelaksana: yaitu keluarga, sekolah/kampus dan masyarakat. Bagan Faktual 3 Unsur Pelaksana Pendidikan. di tengah masyarakat terjadi interaksi antar ketiganya, maka kenegatifan masing-masing itu juga memberikan pengaruh kepada unsur pelaksana pendidikan yang lain. Maksudnya, buruknya pendidikan anak di rumah memberi beban berat kepada sekolah/kampus dan menambah keruwetan persoalan di tengah masyarakat seperti terjadinya tawuran pelajar, seks bebas, narkoba dan sebagainya. Sementara, situasi masyarakat yang buruk jelas membuat nilai-nilai yang mungkin sudah berhasil ditanamkan di tengah keluarga dan sekolah/kampus menjadi kurang optimum. Apalagi bila pendidikan yang diterima di sekolah juga kurang bagus, maka lengkaplah kehancuran dari tiga pilar pendidikan tersebut.
Dalam pandangan sistem pendidikan Islam, semua unsur pelaksana pendidikan harus memberikan pengaruh positif kepada anak didik sedemikian sehingga arah dan tujuan pendidikan didukung dan dicapai secara bersama-sama. Solusi strategis fungsional sebenarnya sama dengan menggagas suatu sistem pendidikan alternatif yang bersendikan pada dua cara yang lebih bersifat strategis dan fungsional, yakni: Pertama, membangun lembaga pendidikan unggulan dimana semua komponen berbasis paradigma Islam, yaitu: (1) kurikulum yang paradigmatik, (2) guru/dosen yang profesional, amanah dan kafa’ah, (3) proses belajar mengajar secara Islami, dan (4) lingkungan dan budaya sekolah/kampus yang kondusif bagi pencapaian tujuan pendidikan secara optimal. Kedua, membuka lebar ruang interaksi dengan keluarga dan masyarakat agar keduanya dapat berperan optimal dalam menunjang proses pendidikan, yusanto (dalam www.geocities.com, 2008:4).
3Tujuan pendidikan
Tujuan pendidikan adalah suatu kondisi ideal dari obyek didik yang akan dicapai, ke arah mana seluruh kegiatan dalam sistem pendidikan di arahkan. Maka, sebagaimana pengertiannya, pendidikan Islam yang merupakan upaya sadar yang terstruktur, terprogram dan sistematis bertujuan untuk membentuk manusia yang (1) berkepribadian Islam, (2) menguasai tsaqofah Islam, (3) menguasai ilmu kehidupan (sainsteknologi dan keahlian) yang memadai. (Lihat Bagan Ideal Orientasi Pendidikan).

3.1Membentuk Kepribadian Islam (Syakhshiyyah Islamiyyah)
Pada prinsipnya, ada tiga langkah untuk membentuk dan mengembangkan kepribadian Islam pada diri seseorang, sebagaimana dicontohnya Rasulullah SAW. Pertama, menanamkan aqidah Islam kepada yang bersangkutan dengan metode tepat, yakni yang sesuai dengan kategori aqidah Islam sebagai aqidah aqliyyah (aqidah yang keyakinannya dicapai melalui proses berfikir). Kedua, mengajaknya bertekad bulat untuk senantiasa menegakkan bangunan cara berpikir dan perilakunya di atas pondasi ajaran Islam semata. Ketiga, mengembangkan kepribadiannya dengan cara membakar semangatnya untuk bersungguh-sungguh mengisi pemikirannya dengan tsaqofah Islamiyyah dan mengamalkan dan memperjuangkannya dalam seluruh aspek kehidupannya sebagai wujud ketaatan kepada Allah SWT. Pendidikan, melalui berbagai pendekatan, harus menjadi media untuk memberikan dasar bagi pembentukan, peningkatan, pemantapan dan pematangan kepribadian anak didik, (lihat Al baghdadi Sistem Pendidikan di Masa Khilafah Islam, hal 25).
3.2Menguasai tsaqafah islam
Tujuan kedua ini juga merupakan konsekuensi (lanjutan) dari kemusliman seseorang. Islam mendorong setiap muslim untuk menjadi manusia yang berilmu dengan cara men-taklif-nya (memberi beban hukum) kewajiban menuntut ilmu. Imam Al Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, membagi ilmu dalam dua kategori dilihat dari sisi kewajiban menuntutnya. Pertama ilmu yang dikategorikan sebagai fardu a’in, yakni ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap individu muslim. Ilmu yang termasuk dalam golongan ini adalah ilmu-ilmu tsaqofah Islam, yakni pemikiran, ide dan hukum-hukum (fiqh) Islam, bahasa Arab, sirah nabawiyah, ulumu al-Qur’an, ulumu al-Hadits dan sebagainya. Kedua adalah ilmu yang dikategorikan sebagai fardu kifayah, yaitu ilmu yang wajib dipelajari oleh sebagian dari umat Islam. Ilmu yang termasuk dalam golongan ini adalah sains dan teknologi serta berbagai keahlian, seperti kedokteran, pertanian, teknik dan sebagainya, yang sangat diperlukan bagi kemajuan material masyarakat. Tsaqofah Islamiyyah di samping sains dan teknologi, membuktikan bahwa Islam membentengi manusia dengan menjadikan aqidah Islam sebagai satu-satunya asas bagi kehidupan seorang muslim. Sebagai bagian dari tsaqafah islamiyah bahasa arab kemudian dijadikan sebagai bahasa umat islam yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pengajaran. Tidak boleh menggunakan bahasa selain bahasa arab.(lihat al-baghdadi Sistem Pendidikan di Masa Khilafah Islam, 40)
3.3Menguasai ilmu kehidupan (iptek dan keahlian)
Kewajiban untuk menguasai ilmu kehidupan (iptek dan keahlian) diperlukan agar umat Islam dapat meraih kemajuan material sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifah Allah SWT dengan baik di muka bumi ini. Pada hakikatnya ilmu pengetahuan terdiri atas dua hal, yakni pengetahuan yang dapat mengembangkan akal pikiran manusia – sehingga ia dapat menentukan suatu tindakan (aksi) tertentu – dan pengetahuan mengenai perbuatan itu sendiri. (lihat al-baghdadi Sistem Pendidikan di Masa Khilafah Islam, 43)

4Unsur Pelaksana Pendidikan
Berdasarkan pengorganisasian, proses pendidikan bisa dibagi menjadi dua, yakni secara formal di sekolah/kampus dan secara nonformal di luar kampus-sekolah/lingkungan, yakni keluarga dan masyarakat. (Lihat Bagan Ideal Unsur Pelaksana Pendidikan).
4. 1Pendidikan di Sekolah/kampus
Pendidikan di sekolah/kampus pada dasarnya merupakan proses pendidikan yang diorganisasikan secara formal berdasarkan struktur hierarkhis dan kronologis. berlangsungnya proses pendidikan di sekolah/kampus sangat bergantung pada keberadaan subsistem-subsistem lain yang terdiri atas: anak didik (pelajar/mahasiswa); manajemen penyelenggaraan sekolah/kampus; kurikulum, fasilitas, dll.
Berdasar sirah Rasul dan tarikh Daulah Khilafah pendidikan formal dapat dideskripsikan sebagai berikut:
Kurikulum pendidikan, mata ajaran, dan metodologi pendidikan disusun berdasarkan pada Aqidah Islam.
Tujuan penyelenggaraan pendidikan merupakan penjabaran dari tujuan pendidikan Islam yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan.
Sejalan dengan tujuan pendidikan, waktu belajar untuk ilmu-ilmu Islam (tsaqofah Islamiyyah) diberikan dengan proporsi yang disesuaikan dengan pengajaran ilmu-ilmu kehidupan (iptek dan keahlian).
Pelajaran ilmu-ilmu kehidupan (iptek dan keahlian) dibedakan dari pelajaran guna membentuk syakhsiyyah Islamiyah dan tsaqofah Islamiyyah.
Bahasa Arab menjadi bahasa pengantar di seluruh jenjang pendidikan, baik negeri maupun swasta.
Materi pelajaran yang bermuatan pemikiran, ide dan hukum yang bertentangan dengan Islam hanya diberikan pada tingkat pendidikan tinggi yang tujuannya hanya untuk pengetahuan, bukan untuk diyakini dan diamalkan.
Pendidikan di sekolah tidak membatasi usia. Yang ada hanyalah batas usia wajib belajar.
Penyelenggaraan kegiatan olahraga dilangsungkan secara terpisah bagi murid laki-laki dan perempuan.
Pendidikan diselenggarakan oleh negara secara gratis atau murah. Swasta bisa menyelenggarakan pendidikan asal visi, misi dan sistem pendidikan yang dikembangkan tidak keluar dari ajaran Islam.
Dalam kehidupan sekuler seperti saat ini, peran penting sekolah/kampus sangat terasa, mengingat bahan masukannya berasal dari suprasistem yang sekuler. Beban sekolah bertambah berat manakala ia pun harus mampu mensterilkan sekolah dari gempuran pengaruh negatif yang datang dari kedua suprasistem.
4. 2Pendidikan di keluarga
Keluarga merupakan tempat pendidikan yang pertama dan utama. karena ia menjadi peletak pondasi kepribadian anak. Upaya pendidikan dalam keluarga sebenarnya telah dan harus dimulai sejak usia anak dalam kandungan hingga menginjak usia baligh dan memasuki jenjang pernikahan; dan bahkan akan terus berlangsung hingga usia tua.
4. 3Pendidikan di Masyarakat
Pendidikan di tengah masyarakat pada hakikatnya juga merupakan proses pendidikan sepanjang hayat. Dalam sistem Islam, masyarakat merupakan salah satu elemen penting penyangga tegaknya sistem selain ketaqwaan individu serta keberadaan negara sebagai pelaksana syariat Islam. Masyarakat berperan mengawasi anggota masyarakat lain dan penguasa dalam pelaksanaan hukum syariat Islam. Masyarakat Islam terbentuk dari individu-individu yang dipengaruhi oleh perasaan, pemikiran, dan peraturan Islam yang mengikat mereka sehingga menjadi masyarakat yang solid. Dari sinilah amar ma’ruf nahi munkar menjadi bagian yang paling esensial yang sekaligus membedakan masyarakat Islam dengan masyarakat lainnya. Ketaqwaan individu anggota masyarakat di samping ditentukan oleh upaya pribadi, juga sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan anggota masyarakat lain dan nilai-nilai yang berkembang di tengah masyarakat.

5Asas Pendidikan
Penetapan aqidah Islam sebagai asas pendidikan tidaklah berarti bahwa setiap ilmu pengetahuan harus bersumber pada aqidah Islam, karena memang tidak semua ilmu pengetahuan terlahir dari aqidah Islam. Yang dimaksud dengan menjadikan aqidah Islam sebagai asas atau dasar dari ilmu pengetahuan adalah dengan menjadikan aqidah Islam sebagai standar penilaian. Dengan kata lain, aqidah Islam difungsikan sebagai kaidah atau tolak ukur pemikiran dan perbuatan.

6Struktur Kurikulum
Kurikulum pendidikan Islam di sekolah/kampus dijabarkan dalam tiga komponen utama, yakni: (1) Pembentukan Syakhsiyyah Islamiyyah (Kepribadian Islami), (2) Tsaqofah Islam dan (3) Ilmu Kehidupan (Iptek dan keahlian). tsaqofah Islam dan Ilmu Kehidupan (Iptek dan keahlian) diberikan secara bertingkat sesuai dengan daya serap dan tingkat kemampuan anak didik berdasarkan jenjang pendidikannya masing-masing, (Lihat Tabel Struktur dan Performa Komponen Kurikulum). Pertama, Pada tingkat dasar atau menjelang usia baligh (TK dan SD), penyusunan struktur kurikulum sedapat mungkin bersifat mendasar, umum, terpadu dan merata bagi semua anak didik yang mengikutinya. Pembentukan syakhshiyyah Islamiyyah harus dilakukan pada semua jenjang pendidikan sesuai dengan proporsinya melalui berbagai pendekatan. Salah satu diantaranya adalah dengan menyampaikan tsaqofah Islam kepada para siswa/mahasiswa. Seperti tampak pada (Tabel Struktur dan Performa Komponen Kurikulum, Tabel Pendekatan Terpadu Pembentukan Syakhsiyah Islamiyah dan Tabel Indikator Kematangan Syakhsiyah Islamiyah Siswa), pada tingkat TK hingga SD materi Syakhsiyyah Islamiyyah yang diberikan adalah Materi Dasar. Setelah mencapai usia baligh, yakni pada SMP, SMU dan PT, materi yang diberikan bersifat Lanjutan (Pembentukan, Peningkatan dan Pematangan). ). Hal ini dimaksudkan untuk memelihara dan sekaligus meningkatkan keimanan serta keterikatan dengan syariat Islam. Indikatornya adalah bahwa anak didik dengan kesadarannya melaksanakan seluruh kewajiban dan mampu menghindari seluruh larangan Allah.
Kedua, Tsaqofah Islam adalah ilmu-ilmu yang dikembangkan berdasar aqidah Islam, yang sekaligus menjadi sumber peradaban Islam. Materi ini diberikan di seluruh jenjang pendidikan secara proporsional. Materi yang diberikan adalah:
Aqidah Islamiyyah
Pemikiran Islam
Bahasa Arab
Ushul Fiqih
Akhlaq
Fiqh muamalah
Sirah Nabawiyah
Dakwah Islamiyyah
Ulumu dan tahfidzu al-Qur’an
Ulumu dan tahfidzu al-Hadits
Fiqih Fardiyah (ibadah, makanan, minuman dan pakaian)

Materi tsaqofah Islam sebagaimana digambarkan pada Tabel Struktur dan Performa Komponen Kurikulum, diberikan secara bertingkat sesuai dengan tingkat kemampuan dan daya serap anak didik dari tingkat TK hingga PT.
Ketiga, Muatan yang ketiga ini diberikan secara bertingkat sesuai dengan perkembangan kemampuan anak. Di jenjang pendidikan tinggi, pengajaran ilmu ini lebih terfokus.

7Dana, Sarana dan Prasarana
Berdasarkan sirah Nabi SAW dan tarikh Daulah Khilafah – sebagaimana disarikan oleh Al Baghdadi (1996) dalam buku Sistem Pendidikan di Masa Khilafah Islam, negara memberikan pelayanan pendidikan secara cuma-cuma (bebas biaya) dan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dengan fasilitas (sarana dan prasarana) sebaik mungkin. Kesejahteraan dan gaji para pendidik sangat diperhatikan. Dana pendidikan ditanggung negara yang diambil dari kas baitul maal. Sistem pendidikan bebas biaya dilakukan oleh para shahabat (ijma), termasuk pemberian gaji yang sangat memuaskan kepada para pengajar yang diambil dari baitul maal.
8Kendala dan Upaya
Model pendidikan atau sekolah unggulan seperti itu jelas hanya dapat diterapkan oleh negara karena negaralah yang memiliki seluruh otoritas yang diperlukan bagi penyelenggaraan pendidikan yang bermutu, termasuk penyediaan dana yang mencukupi, sarana, prasarana yang memadai dan sumberdaya manusia yang bermutu. Dalam membangun model pendidikan sebagaimana yang dikehendaki Islam saat ini tentu saja akan menghadapi kendala utama, yakni belum diterapkannya bangunan sistem Islam secara menyeluruh dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Mengingat kendala di atas, maka tahap pertama bisa ditempuh aksi individual atau kelompok yang dibenarkan oleh hukum syara dan memenuhi persyaratan sebagai lembaga pendidikan Islam, dari mulai asas kurikulumnya hingga operasionalisasi pendidikan keseharian. Tahap berikutnya, secara simultan bersamaan dengan tahap pertama tadi harus diperjuangkan tegaknya sistem pendidikan Islami oleh negara sebagai bagian dari sistem Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

BAB III
PENUTUP
Pada bagian ini dikemukakan beberapa hal, yaitu: (1) simpulan dan (2) saran. Hal-hal tersebut akan diuraikan sebagai berikut :

5.1Simpulan dan Saran
Berdasarkan data yang penulis peroleh dari hasil paparan dan pembahasannya, maka penulis dapat memperoleh kesimpulan dan saran untuk melengkapi hasil akhir dari penulisan.

5.1.1Simpulan
Berdasarkan deskrepsi serta analisis tentang sistem pendidikan. Adapun simpulan secara rinci dapat diuraikan sebagai berikut :
1.Sistem pendidikan sekuler-materialistik terbukti telah gagal melahirkan manusia shaleh yang sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan melalui penguasaan sains dan teknologi.
2.sistem pendidikan sekuler telah memisahkan antara pendidikan agama dengan pendidikan islam. Bahkan terjadi dikotomi pendidikan yang semakin memperburuk keadaan pendidikan yang ada di Indonesia.
3.Sistem pendidikan islam mampu menghasilkan keluaran (output) peserta didik yang berkepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyyah), menguasai tsaqofah Islam dan ilmu-ilmu kehidupan (iptek dan keahlian).
4.Secara paradigmatik, pendidikan harus dikembalikan pada asas aqidah Islam yang bakal menjadi dasar penentuan arah dan tujuan pendidikan.
5.Pendidikan yang integral harus melibatkan tiga unsur pelaksana: yaitu keluarga, sekolah/kampus dan masyarakat. Dalam pandangan sistem pendidikan Islam, semua unsur pelaksana pendidikan harus memberikan pengaruh positif kepada anak didik sedemikian, sehingga arah dan tujuan pendidikan didukung dan dicapai secara bersama-sama.
6.Kurikulum pendidikan Islam di sekolah/kampus dijabarkan dalam tiga komponen utama, yakni: (1) Pembentukan Syakhsiyyah Islamiyyah (Kepribadian Islami), (2) Tsaqofah Islam dan (3) Ilmu Kehidupan (Iptek dan keahlian).
7.Negara memberikan pelayanan pendidikan secara cuma-cuma (bebas biaya) dan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dengan fasilitas (sarana dan prasarana) sebaik mungkin. Dana pendidikan ditanggung negara yang diambil dari kas baitul maal.
8.Untuk upaya membangun sistem pendidikan islam ada 2 tahap; tahap pertama bisa ditempuh aksi individual atau kelompok yang dibenarkan oleh hukum syara dan memenuhi persyaratan sebagai lembaga pendidikan Islam, dari mulai asas kurikulumnya hingga operasionalisasi pendidikan keseharian. Tahap berikutnya, secara simultan bersamaan dengan tahap pertama tadi harus diperjuangkan tegaknya sistem pendidikan Islami oleh negara sebagai bagian dari sistem Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
9.Tapi kegiatan ini tidak boleh melupakan agenda besarnya, yakni perjuangan penegakan kehidupan Islam yang di dalamnya seluruh aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara, termasuk di bidang pendidikan, diatur dengan syariah. Hanya dengan cara itu saja, kerahmatan syariah dapat benar-benar diujudkan. Insya Allah.

5.1.2Saran
Sebagai upaya untuk menyempurnakan sistem pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik, maka penulis menyarankan beberapa hal antara lain sebagai berikut:
1.Departemen Pendidikan Nasional hendaknya menyadari bahwa betapa pendidikan sekularisme-materialistik yang ada sekarang justru telah gagal mencetak generasi yang shaleh sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan melalui penguasaan sains dan teknologi.
2.Sudah selayaknya sistem pendidikan yang ada sekarang diganti dengan sistem pendidikan islam sebagai alternatif yang terbukti jauh lebih baik dari sistem pendidikan yang ada sekarang.
3.Diperlukan adanya sebuah Negara yang menerapkan sistem pendidikan islam. Karena hanya negaralah yang memiliki seluruh otoritas yang diperlukan bagi penyelenggaraan pendidikan yang bermutu.

DAFTAR PUSTAKA

Al-baghdadi, Abdurrahman. 1996. Sistem Pendidikan di Masa Khilafah Islam. Surabaya: al-Izzah.
Al-ghazali, Imam. 1997. Mutiara Ihya Ulumuddin. Jakarta: Mizan
Freire, Paulo. 2002. Politik Pendidikan Kebudayaan, Kekuasaan dan kebebasan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Joesoef, Soelaiman, Drs dan Santoso, Slamet, Drs. 1981. Pendidikan Luar Sekolah. Surabaya: CV. Usaha Nasional
“MelawanLiberalisasi Pendidikan Tinggi” dalam www.khilafah1924.org, 9 juli 2008
“Menggagas Kembali Konsep Sistem Pendidikan Islam” dalam www.geocities.com, 4 juli 2008
O’neill, William f. 2002. Ideologi-Ideologi Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
“Pembiayaan Pendidikan Dalam Islam” dalam www.khilafah1924.org, 9 juli 2008
“Pendidikan di Indonesia : Masalah dan Solusinya” dalam www.mii.fmipa.ugm.ac.id, 9 Juli 2008
Problematika Sistem Pendidikan Indonesia dan Gagasan Pendidikan Berbasis Syari’ah” dalam www.Syabab.com, 9 Juli 2008.
“Revitalisasi Pendidikan Pesantren” dalam www. indonesian.irib.ir, 4 juli 2008
Saukah,Ali.1996. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah: Skripsi, Tesis, Disertasi, Artikel, Makalah, Laporan Penelitian Edisi ke-3. Malang: Penerbit IKIP Malang
Setiawan, Benni. 2006. Manifesto Pendidikan Indonesia. Yogyakarta: ar-ruzz media
Shaleh, Abdurrachman.2006.Pendidikan Agama dan Pembangunan Watak Bangsa. Jakarta: PT Raja Grafindo Surabaya
“Sistem Pendidikan Dalam Ideologi Sekuler-Kapitalisme : Studi Kasus Sistem Pendidikan Amerika” dalam www.gemagitasi.blogspot.com, 9 Juli 2008
“Wajah Buruk Pendidikan di Indonesia” dalam www.hakim20.wordpress.com, 9 juli 2008

BIODATA PESERTA

Nama Lengkap : Fauzan
Tempat dan Tanggal Lahir : Meulaboh, 4 April 1989
Jenis Kelamin : Laki-laki
Kedudukan : Mahasantri Ibnu sina
Fakultas : Sains dan Teknologi
Jurusan/Kelas : Teknik Arsitektur/B
NIM : 07660044
Alamat Ma’had : Jln. Gajayana 50.
Mabna Ibnu Sina kamar 14
Ma’had Sunan Ampel Al-‘Aly
Universitas Islam Negeri Malang
Alamat Rumah : Jln. Cut Nyak Dhien 23
Kel. Kampung Belakang
Kec. Johan Pahlawan
Kab. Aceh Barat
Kode Pos. 23612
Prov. NAD
Telp. 085260684898
Kegemaran (hobi) : Menulis, Membaca dan Berpetualang
E-mail : Fauzan_revolt@yahoo.co.id
Blog : www.fauzan369.wordpress.com
Cita-cita Pribadi : Penulis, Enterpreneur
Bidang Ilmu yang digemari : Arsitektur
Nama Orang tua
a. Ayah : Zulbahri T.
b. Ibu : Marhaini said, BA
Pekerjaan Orang tua
a. Ayah : Swasta
b. Ibu : PNS
Pendidikan Orang tua
a. Ayah : SMEA
b. Ibu : D-III

Prestasi yang pernah diraih :
Juara II Lomba Kompetensi Siswa SMK tingkat provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Bidang Keahlian Building CAD. Tahun 2006.

Daftar lampiran

Tabel Struktur dan Performa Komponen Kurikulum
JENJANG
PENDIDIKAN

TK

SD

SMP

SMU

PT
KOMPONEN
MATERI

Pembentukan
Syakhsiyyah Islamiyyah

Pembentukan

Pematangan
Dasar-dasar

Tsaqofah Islam

5

4

3

2
1

Ilmu Kehidupan
- Iptek /keahlian
- Keterampilan

5

4

3

2
1

Tabel Pendekatan Terpadu Pembentukan Syakhshiyyah Islamiyyah
No
JENIS
PENDEKATAN
IMPLEMENTASI
MATERI
INDUK
PELAKSANA
1.
Formal
struktural
Dilakukan melalui kegiatan tatap muka formal dalam jam belajar-mengajar resmi.

Tsaqofah Islam
Guru
2.
Formal- nonstruktural
Dilakukan melalui proses pencerapan nilai-nilai Islam dalam setiap mata ajaran yang diberikan kepada siswa, diantaranya melalui internalisasi nilai tauhid.

Iptek
Guru
3.
Keteladanan
Diberikan dalam wujud contoh nyata amaliyah harian (akhlak & ibadah) di lingkungan sekolah.

Tsaqofah Islam

Guru,
Pengelola pendidikan
4.
Penerapan
budaya sekolah (school culture)

Diterapkan melalui pengamalan syariat Islam secara nyata, baik menyangkut akhlak, ibadah, pergaulan, kebersihan atau hal lain, yang ditunjang dengan proses pembiasaan dalam penerapan aturan beserta sanksinya.
Tsaqofah Islam
dan penerapan
Aturan sekolah
Guru,
Pengelola Pendidikan
5.
Pembinaan pergaulan
antar siswa
Dilakukan dalam suasana ukhuwah Islamiyyah dengan standar kepribadian Islam, antara lain saling menyayangi dan menghormati, serta saling mengingatkan.
Tsaqofah Islam
dan penerapan aturan
Guru,
Pengelola Pendidikan
dan
siswa
6.
Amaliyah ubudiyah
harian

Dilakukan dengan pembiasaan shalat berjamaah.
Tsaqofah Islam
dan penerapan aturan
Guru,
Pengelola pendidikan
dan
siswa

Tabel Indikator Kematangan Syakhshiyyah Islamiyyah Siswa
KOMPONEN
ASPEK
URAIAN INDIKASI

AQLIYYAH

Memahami aqidah
Islam
Dan menjadikanya sebagai landasan berpikir.

AFKAR
(pemikiran)

&

ARA’
(pendapat)
Aqidah
Memahami dan mengimani seluruh perkara aqidah Islam.
Syariat
Memahami pemikiran syariat Islam.
Problematika umat
Memahami problematika umat dan ide-ide yang bertentangan dengan Islam.
Dakwah
Memahami ihwal kewajiban dakwah dan thariqah dakwah Rasul SAW.

AHKAM
(hukum)
Ibadah

Memahami hukum Islam yang berkaitan dengan ibadah, halal dan haramnya makanan dan minuman, pakaian, akhlaq, muamalah (aspek ekonomi, sosial, pemerintahan), uqubah.
Makanan/
Minuman
Pakaian
Akhlaq
Muamalah
Uqubah
NAFSIYAH

Menjadikan syariat
Islam
Sebagai
tolok
ukur
perbuatan
Ibadah
Selalu melaksanakan ibadah dengan khusyu’ sesuai syariat
Makanan/
Minuman
Selalu mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal.
Pakaian
Selalu menutup aurat.
Akhlaq
Selalu menampakkan akhlakul karimah, giat menuntut ilmu dan memiliki etos berprestasi
Muamalah
Selalu bermuamalah secara Islam.
Dakwah
Bersedia terlibat dalam dakwah bagi tegaknya kembali izzul Islam wa al-muslimin.