Arsip untukJuli, 2008

Bibliotheca Alexandrina

Architect : Snøhetta
Location : Shatby, Egypt
Date : 1989 to 2001
Building : Type large regional public library
Construction System : granite cladding
Climate : desert
Context : urban
Style : Modern
Notes with : Hamza Associates of Cairo. Overlooking the Mediterranean.

Pendahuluan
Bibliotheca Alexandrina, itulah namanya. Sebuah bangunan yang spektakuler pada berapa dekade ini sungguh menarik perhatian dunia. Keindahan bangunan yang tak tergambarkan oleh kata-kata ini menjadikannya begitu sempurna. Perancangannya yang menarik atas kerjasama antara Snøhetta dengan hamza dalam mengerjakan proyek ini merupakan kerjasama yang sangat baik. Kejelasan struktur geometrisnya yang digabungkan dengan estetika yang sempurna menjadikannya tampak megah. Sangat pantas jika Snøhetta dalam hal ini memenangkan kompetisi arsitektur dunia. Apakah yang membuat bangunan ini begitu spektakuler?pada kesempatan kali ini saya akan mendeskripsikan tentang Bibliotheca Alexandrina.

Pembangunan
Sebuah Bangunan monumental yang dikenal dengan nama Bibliotheca Alexandrina merupakan perpustakaan utama dan pusat budaya yang terletak di pantai Laut Tengah di Mesir tepatnya di kota Alexandria. Perpustakaan ini merupakan sebuah peringatan untuk Perpustakaan Alexandria yang hilang.
Ide untuk menghidupkan kembali perpustakaan kuno tersebut kembali ke 1974, ketika sebuah komite yang dibentuk oleh University of Alexandria memilih sebuah lokasi untuk perpustakaan baru, antara kampus dan laut, dekat dengan perpustakaan kuno dulu berdiri. Ide untuk menciptakan kembali perpustakaan kuno tersebut diterima dengan antusias oleh pribadi dan agensi lain.
Salah satu pendukung utama proyek ini adalah Presiden Mesir Hosni Mubarak; UNESCO juga cepat tanggap terhadap ide memberikan daerah Laut Tengah dengan pusat budaya dan sains yang maju. Sebuah kompetisi arsitektur, yang diatur oleh UNESCO pada 1988 untuk memilih desain yang layak untuk tempat tersebut dan warisannya, dimenangkan oleh perusahaan Norwegia Snøhetta dari lebih dari 1.400 masukan lainnya.
Pada sebuah konferensi yang diadakan pada 1990 di Aswan, bantuan pertama pembiayaan untuk proyek tersebut diberikan: US$65 juta, kebanyakan dari negara-negara Arab. Konstruksi dimulai pada 1995 dan setelah menghabiskan US$220 juta, kompleks ini akhirnya diresmikan pada 16 Oktober 2002(dalam www. id.wikipedia.org , 2008:7)
Perpustakaan yang dikenal sebagai perpustakaan terbesar ini diresmikan oleh Presiden Husni Mubarak yang dihadiri oleh Pemimipin dan Presiden dari berbagai Negara lainnya diantaranya: Presiden Prancis, Presiden Yordania, Ketua UNESCO (Badan Pendidikan, Sains dan Kebudayaan PBB), dan para Pembesar lainnya. (dalam www.kupretist.multiply.com)
Pada tahun 1989, Mesir mengumumkan kompetisi arsitektur untuk merancang Perpustakaan Alexandria. Sekitar 650 tim menyerahkan rencana mereka. Merupakan suatu kejutan ketika Snøhetta, sebuah kantor arsitek kecil di Norwegia yang tidak pernah memenangkan kompetisi dan membangun gedung dalam skala besar mendapat hadiah pertama. Perpustakaan Alexandria yang baru, atau Bibliotheca Alexandrina, dibuka pada tahun 2002 dan dipandang sebagai salah satu karya arsitektur paling penting dalam beberapa dekade terakhir.

Bibliotheca Alexandrina merupakan bangunan yang menakjubkan
Bentuk perpustakaan tersebut sangat mengesankan namun tetap sederhana. Secara keseluruhan, bangunan dibagi secara diagonal, berdiri dalam bentuk silinder dimana kejelasan struktur geometris memiliki persamaan dengan keantikan bangunan besar di Mesir. Garis lurus yang menusuk bentuk silinder perpustakaan sebenarnya adalah jembatan penyeberangan, yang memberikan jalan dari Universitas Alexandria ke Selatan. Jembatan tersebut menyeberangi jalanan yang padat untuk mencapai lantai dua perpustakaan dan terus ke plasa di sebelah Utara gedung, mengarah ke laut.
Di sebelah Barat jembatan ini, sebagian besar berbentuk silinder menukik, menciptakan ruang kosong yang merupakan pintu masuk utama perpustakaan. Pintu masuk perpustakaan menghadap pintu depan sebuah gedung pertemuan tua, dan sepertinya menunjukkan penghormatan pada gedung tersebut. Diantara kedua gedung tersebut adalah plasa yang dihias dengan jalanan batu dan, terbenam di dalam plasa adalah area yang sangat luas untuk planetarium.
Bangunan berbentuk silinder dipotong oleh sudut miring. Umumnya, hal ini akan membentuk elips, tetapi para arsitek memulai dengan silinder elips yang dimiringkan jauh dari garis vertikal. Oleh karena itu, area lantai dasar dan atap bangunan menghasilkan bentuk lingkaran yang sempurna. Dinding-dinding miring perpustakaan semuanya menunjuk ke Utara, ke arah laut. Sementara silinder adalah bentuk statis, bentuk tidak beraturan perpustakaan memberikannya gerak – kesan yang ditekankan oleh garis vertikal 10 m dibawah tanah hingga 32 m di atas tanah dari sebuah gedung bertingkat 10.
Dinding yang menghadap Selatan dari bagian silinder dihias dengan potongan batu granit yang merupakan pecahan batu yang sangat besar, bukan digergaji. Permukaannya tidak rata, dengan garis bentuk yang halus. Batu-batu granit tersebut ditulisi dengan simbol huruf dari seluruh dunia, salah satu gambaran tentang perpustakaan ini yang mempunyai ilmu yang ada dari seluruh dunia dengan segala bahasa yang berbeda-beda pula. Sinar matahari dan pantulan lampu di perbatasan air menghasilkan bentuk bayangan dinamis dari simbol-simbol tersebut, yang mengingatkan pada dinding tempat beribadah Mesir kuno. Ruang utama perpustakaan yang sangat luas – setengah lingkaran dengan diameter 160 m – merupakan ruangan yang sangat kuat. Dinding melengkung tebuat dari beton dengan sambungan vertikal terbuka, semetara dinding yang lurus dihias dengan batu hitam dari Zimbabwe. Lantainya dibagi menjadi tujuh tingkat yang menurun ke Utara, menuju Mediterrania. (dalam www.norwegia.or.id)
Pada jalan masuk ke Perpustakaan ini akan kita temui tembok batu besar yang bertuliskan “manuskrip museum”. Tembok batu besar ini mengambil bentuk bangunan-bangunan mesir kuno di masa lalu.
Dengan model seperti Opera Square di Sidney dan seperti museum di New York. Mempunyai kapasitas yang mampu memuat sekitar 8.000.000 buku, dengan jumlah yang baru ada sekarang sekitar 5000.000 buku. Adapun ruangan-ruangan khusus untuk membaca yang sangat luas dan dirancang sedemikian rupa dengan arsitek yang sangat canggih. Sedangkan pencahayaan dalam ruangannya pada waktu pagi hingga siag hari menggunakan sinar matahari langsung sebagai pantulan dari atapnya yang tembus kilauan cahayanya dengan warna-warna khusus sehingga tidak membuat ruangan silau dan menggambarkan perbedaan siangdan sore hari.
Sebagaimana disebutkan bahwa Perpustakaan ini berbentuk Istana Matahari yang muncul dari permukaan bumi dengan menghadap laut. Ketinggiannya mencapai 160 meter jika diukur dari bagian paling bawah. Dikelilingi dengan batu Aswan (granit) yang berbentuk bulan purnama dan divariasi dengan huruf abjad sebanyak 120 buah dengan bahasa yang berlainan.
Salah satu bagiannya yang berupa bulat yaitu planetarium, sengaja diserupakan dengan bentuk planet bulan yang terlihat terang di malam hari. Selayaknya bulan purnama yang menerangi bumi dengan cahaya sekundernya dari matahari, begitu juga dengan Bibliotheca Alexandrina yang memberi pencerahan bagi siapa saja yang menginginkannya.
Di samping itu, makatabah ini juga dilengkapi dengan ruang konferensi yang dapat menampung 3200 peserta. Perpustakaan yang berkubah seperti kristal ini juga menyediakan sebuah perpustakaan Thaha Husein khusus untuk tuna netra yang bisa dibaca dengan sentuhan tangan (huruf Braille), juga perpustakaan khusus anak-anak, yang semua dirancang dengan teknologi hitungan canggih, manuskrip dan lima embaga riset. Juga berisi buku-buku klasik yang dimulai sejak zaman tarikh Islam dahulu, sampai karya-karya tulis Ilmiah terbaru dari seluruh Negara Eropa. (kupretist.multiply.com)
Perpustakaan kuno Alexandria memiliki koleksi tulisan antik terbaik. Ketika perpustakaan ini dihancurkan pada abad kelima setelah masehi, harta kearifan kuno dalam jumlah yang sangat banyak selamanya hilang.

Daftar Pustaka
“Alexandria, Saksi Peradaban Mesir”, dalam http://www.kupretist.multiply.com/journal/item/106, di akses tanggal 9 Juli 2008
“Bibliotek_Alexandria” dalam http://www.id.wikipedia.org/wiki, diakses tanggal 9 Juli 2008

“Bibliotheca Alexandrina” dalam http://www.greatbuildings.com, diakses tanggal 9 Juli 2008
“Bibliotheca Alexandrina (Egypt)” dalam http://www.hamza.org, diakses tanggal 9 Juli 2008
http://www.bibalex.org/English/gallery/pages, diakses tanggal 9 Juli 2008
Perpustakaan Alexandria http://www.norwegia.or.id/culture/architecture/alexandria, diakses tanggal 9 Juli 2008

LKTI fauzan Th 2008

MEMBANGUN SISTEM PENDIDIKAN ISLAM
MENUJU INDONESIA LEBIH BAIK

Karya Tulis
Dibuat Guna Mengikuti Lomba Karya Tulis Mahasantri se-Ma’had Sunan Ampel Al-‘Aly.
Dengan tema: Revitalisasi Pendidikan Islam Menuju Kebangkitan Hakiki
Tahun 2008

oleh
Fauzan

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MALANG
MA’HAD SUNAN AMPEL AL-‘ALY
MABNA IBNU SINA
2008
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbila’lamin, hanya kita peruntukan kepada Allah swt. Dengan rahmat-Nya karya tulis ini dapat saya selesaikan. Salawat beriring salam kita sanjungkan kepada Nabi Muhammad saw, karena beliau adalah panutan kita dalam menjalani hidup ini.
Karya tulis ini dibuat guna mengikuti Lomba Karya Tulis Mahasantri se-Ma’had Sunan Ampel Al-‘Aly, Tahun 2008 dengan judul “Membangun sistem pendidikan islam menuju Indonesia lebih baik”. Hasil yang diperoleh dalam karya tulis ini diharapkan dapat memberikan deskripsi serta sumbangan pemikiran berupa analisis permasalahan serta solusinya tentang sistem pendidikan yang baik untuk diterapkan di Indonesia serta diharapkan oleh semua pihak.
Dalam penulisan karya tulis ini, saya banyak dibantu oleh berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini kami sampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1.Bapak Ahmad Syakirin Asmu’I, Lc. MA. Yang telah banyak memberikan masukan dalam tulisan ini.
2.Semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu yang dengan sukarela telah memberi bantuan kepada kami sehingga karya tulis ini dapat kami selesaikan.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa karya tulis ini masih saja terdapat kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya konstruktif demi kesempurnaan karya tulis ini, kami terima dengan senang hati. Akhirnya karya ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pembaca

Malang, 08 Juli 2008
Penulis

ABSTRAK

Karya tulis ini berjudul “Membangun Sistem Pendidikan Islam Menuju Indonesia Lebih Baik”. Secara rinci masalah diklasifikasikan menjadi dua macam yaitu (1) sistem pendidikan Indonesia yang berasaskan sekularisme telah terbukti gagal menghantarkan manusia menjadi sosok pribadi yang utuh, yakni seorang Abidu al-Shalih yang muslih. , (2) Bagaimana sistem pendidikan islam sebagai alternative pendidikan lebih baik dari sistem pendidikan sekuler, dan (3) Bagaimana konsep dasar pendidikan islam yang mampu mengantarkan Indonesia menjadi lebih baik?
Penulisan ilmiah ini bertujuan untuk (1) Mendeskripsikan kelemahan sistem pendidikan sekuler yang ada sekarang, (2) Mendeskripsikan kelebihan sistem pendidikan islam sebagai alternatif pendidikan yang baik, dan (3) Mendeskripsikan konsep sistem pendidikan islam secara komprehensif.
Dari pemaparan kelemahan sistem pendidikan sekuler-materialistik yang ada sekarang terdapat banyak kelemahan, Sistem pendidikan semacam ini terbukti telah gagal melahirkan manusia shaleh yang sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan melalui penguasaan sains dan teknologi. sekularisasi pendidikan menghasilkan dikotomi pendidikan yakni antara pemisahan antara pendidikan “agama” dengan pendidikan umum
Berdasarkan deskripsi ternyata terdapat sistem pendidikan alternatif yang dapat dijadikan teladan bagi sistem pendidikan yang baik dan telah terbukti berhasil mencetak anaka didiknya menjadi manusia shaleh yang sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan melalui penguasaan sains dan teknologi.
Dari paparan analisis yang sangat jelas maka, sangat diperlukan adanya suatu solusi alternative terhadap pendidikan yang ada di Indonesia yaitu dengan menerapkan sistem pendidikan islam. Di dalam sistem pendidikan islam, terdapat 3 tujuan pendidikan yaitu; mampu menghasilkan keluaran (output) peserta didik yang berkepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyyah), menguasai tsaqofah Islam dan ilmu-ilmu kehidupan (iptek dan keahlian). Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan adanya paradigma yang jelas terhadap asas pendidikan. Unsur pelaksana pendidikan Struktur kurikulum harus diperbaiki sesuai dengan asas pendidikan. dana, sarana dan prasarana pendidikan dikelola oleh Negara yang mempunyai otoritas terhadap pendidikan.

DAFTAR ISI

Kata Pengantar i
Abstrak ii
Daftar Isi iii
Daftar Tabel iv
Bab I
Latar Belakang 1
Rumusan Masalah 2
Tujuan Karya Tulis 2
Manfaat Karya Tulis 3
Bab II
Analisis Masalah 4
Solusi dan Konsep Sistem Pendidikan Islam 9
Bab III
Simpulan 19
Saran 21
Daftar Pustaka 22
Biodata Peserta 23
Daftar Lampiran 24

DAFTAR TABEL DAN BAGAN

Bagan skematis akar dan solusi masalah kehidupan 24
Bagan Akar masalah pendidikan dan solusi fundamentalnya 25
Bagan ideal orientasi pendidikan integral 26
Bagan solusi unsure pelaksana pendidikan alternative idealis 26
Bagan skematis fakta dan solusi problematika pendidikan di sekolah/kampus 26
Tabel struktur dan performa komponen kurikulum 27
Tabel pendekatan terpadu pembentukan syakhsiyah islamiyah 27
Tabel indikator kematangan syakhsiyah islamiyah siswa/mahasiswa 28
BAB I
PENDAHULUAN
Bagian ini menguraikan tentang (1) latar belakang, (2) rumusan masalah, (3) tujuan karya tulis dan (4) mamfaat karya tulis. Hal tersebut akan dijelaskan berikut ini.

1.1Latar belakang
Salah satu persoalan rumit yang dihadapi oleh masyarakat, selain ekonomi dan politik, adalah persoalan pendidikan. Ketika tawuran antar pelajar marak terjadi di berbagai kota, ditambah dengan sejumlah perilaku mereka yang sudah tergolong kriminal, penyalahgunaan narkoba dan meningkatnya seks bebas di kalangan pelajar, dunia pendidikan kembali dituding telah gagal membentuk watak mulia pada anak didik. Pendidikan yang diharapkan dapat memperbaiki kondisi Negara Indonesia yang terpuruk menjadi lebih baik justru menjadi masalah baru bagi Negara yang tercinta ini, yusanto(dalam geocities.com)
Selanjutnya yusanto menjelaskan, Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia agar menjadi lebih baik. Tetapi upaya yang telah dilakukan belum memberikan hasil yang berarti apalagi mencapai sebuah kebangkitan yang hakiki. Pendidikan Indonesia yang cenderung sekuleristik justru semakin memperparah keadaan karena telah menghilangkan nilai-nilai transedental pada semua proses pendidikan. Sistem pendidikan sekuleristik terbukti telah gagal melahirkan manusia shaleh yang sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan melalui penguasaan sains dan teknologi. Karena itu dibutuhkan solusi yang komprehensif dan fundamental terhadap sistem pendidikan yang ada di Indonesia.
Kualitas pendidikan di Indonesia sangat memprihatinkan. Ini dibuktikan antara lain dengan data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan, bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999). Al-jawi(dalam www.mii.fmipa.ugm.ac.id, 2008:9)
Alasan yang mendorong penulisan karya tulis ini adalah (1) guna mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasantri se-ma’had sunan ampel al-aly, (2) masih belum ditemukannya solusi yang komprehensif terhadap pendidikan yang baik untuk diterapkan di Indonesia, (3) mendeskripsikan kondisi pendidikan di Indonesia (4) mendeskripsikan konsep sistem pendidikan islam sebagai alternatif pendidikan yang tepat diterapkan di Indonesia. Sistem pendidikan yang salah dan tanpa arah tujuan yang jelas, tidak tertutup kemungkinan dapat menyebabkan terjadinya stagnan pendidikan di Indonesia serta dapat merusak masa depan generasi bangsa. Karya tulis dengan tema “revitalisasi pendidikan islam menuju kebangkitan hakiki” ini diharapkan dapat memberikan deskripsi serta sumbangan pemikiran berupa analisis permasalahan, solusi serta konsep dasar sistem pendidikan islam sebagai sistem pendidikan alternatif di Indonesia. Adapun judul lengkap karya tulis ini adalah ”Membangun Pendidikan Islam Menuju Indonesia Lebih Baik”.

1.2Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, secara umum masalah dalam karya tulis ini adalah “bagaimanakah konsep sistem pendidikan dalam islam?”. Masalah umum secara rinci dapat menjadi sub masalah sebagai berikut :

1)Bagaimanakah kelemahan pendidikan di Indonesia yang cenderung sekuleristik?
2)Bagaimanakah konsep sistem pendidikan islam sebagai alternatif sistem pendidikan yang baik diterapkan di Indonesia?

1.3Tujuan Karya Tulis
Berdasarkan masalah yang telah ditetapkan, karya tulis ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi tentang konsep sistem pendidikan islam dan mendeskripsikan . Tujuan karya tulis secara rinci dapat dikemukakan sebagai berikut :
1)Mendeskripsikan kelemahan sistem pendidikan di Indonesia yang cenderung sekuleristik.
2)Mendeskripsikan kelebihan sistem pendidikan islam sebagai alternatif sistem pendidikan Indonesia.
3)Mendeskripsikan konsep sistem pendidikan islam secara fundamental.

1.4Manfaat Karya Tulis
Hasil karya tulis ini diharapkan dapat memberikan deskripsi secara fundamental tentang konsep sistem pendidikan islam. Untuk itu diharapkan hasil karya tulis ini mampu memberikan manfaat secara teoritis dan praktis sebagai berikut.
Secara teoritis hasil karya tulis ini memberikan kontribusi yang berarti karena dapat dimanfaatkan untuk (1) menambah kajian khasanah sistem pendidikan khususnya tentang sistem pendidikan islam, (2) memberikan informasi empiris dan idealistis tentang sistem pendidikan islam, dan (3) di terapkan pada sistem pendidikan di Indonesia.
Secara praktis hasil karya tulis ini dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi (1) penulis, (2) instansi terkait dan (3) masyarakat. Bagi penulis hasil penulisan ini dapat dijadikan sebagai dasar untuk mengadakan penulisan lebih lanjut, bagi instansi terkait dapat menambah referensi tentang sistem pendidikan islam sebagai alternatif sistem pendidikan di Indonesia, sedangkan bagi masyarakat karya tulis ini memberikan masukan serta pengetahuan tentang konsep sistem pendidikan islam.

BAB II
ISI
Bab ini akan memaparkan dan mendeskipsikan (1) analisis rumusan masalah tentang kelemahan sistem pendidikan di Indonesia yang cenderung sekuleristik dan kelebihan sistem pendidikan islam sebagai alternatif sistem pendidikan di indonesia (2) solusi sistem pendidikan di indonesia dan konsep fundamental sistem pendidikan islam sebagai alternatif sistem pendidikan islam. Hal tersebut akan dijelaskan berikut ini.

2.1Analisis Rumusan Masalah
1.Bagaimanakah kelemahan sistem pendidikan di Indonesia yang cenderung sekuleristik?
Ada beberapa kelemahan dari sistem pendidikan di Indonesia yang cenderung sekuleristik dan harus diganti dengan sistem pendidikan islam demi menyelamatkan masyarakat Indonesia dari kebobrokan di bidang pendidikan (Lihat Bagan Skematis Akar dan Solusi Problematika Kehidupan), kelemahan-kelemahan tersebut adalah sebagai berikut:
1.1Berdasarkan hasil survei Political and Economic Risk Consultancy (PERC) yang berpusat di Hongkong pada tahun 2001 saja menyebutkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia terburuk di kawasan Asia, yaitu dari 12 negara yang disurvei, Korea Selatan dinilai memiliki sistem pendidikan terbaik, disusul Singapura, Jepang dan Taiwan, India, Cina, serta Malaysia. Indonesia menduduki urutan ke-12, setingkat di bawah Vietnam (www.kompas.com).
1.2Al-jawi (dalam www.mii.fmipa.ugm.ac.id, 2008:7) menjelaskan, diakui atau tidak sistem pendidikan yang berjalan saat ini adalah sistem pendidikan yang sekuler-materialistik. Hal ini dapat terlihat antara lain pada UU Sisdiknas No 20 tahun 2003 bab VI tentang jalur, jenjang, dan jenis pendidikan bagian kesatu (umum) pasal 15 yang berbunyi: Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, advokasi, keagamaan, dan khusus. Hal ini jelas adanya dikotomi pendidikan yaitu pendidikan agama dan pendidikan umum. Sistem pendidikan dikotomis semacam ini terbukti telah gagal melahirkan manusia salih yang berkepribadian Islam sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan sains dan teknologi.
1.3Selain itu hakim(dalam www.hakim20.wordpress.com, 2008:7) melanjukan, BAB VI pasal 15 juga tampak pada BAB X pasal 37 UU Sisdiknas tentang kurikulum pendidikan dasar dan menengah yang mewajibkan memuat sepuluh bidang mata pelajaran dengan pendidikan agama yang tidak proposional dan tidak dijadikan landasan bagi bidang pelajaran lainnya. Ini jelas tidak akan mampu mewujudkan anak didik yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional sendiri, yang dikarenakan kurilulum saat ini berawal dari asasnya yang sekuler. Pendidikan yang sekuler- materialastik ini memang bisa melahirkan orang yang menguasai sains-tekhnologi melalui pendidkan umum yang diikutinya. Akan tetapi pendidikan semacam ini terbukti gagal membentuk kepribdian peserta didik dalam penguasaan tsaqafah Islam. Sebaliknya yang belajar dilingkungan pendidikan agama memang menguasai tasqafah Islam dan secara relatif sisi kepribadiannya tergarap baik. Akan tetapi, disisi lain ia buta terhadap perkembangan sains dan tekhnologi.(dalam hakim20.wordpress.com)
1.4Sistem pendidikan sekarang ini jelas tidak akan mampu mewujudkan anak didik yang sesuai dengan tujuan dari pendidikan nasional sendiri, yaitu mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Kacaunya kurikulum ini tentu saja berawal dari asasnya yang sekular, yang kemudian mempengaruhi penyusunan struktur kurikulum yang tidak memberikan ruang semestinya bagi proses penguasaan tsaqâfah Islam dan pembentukan kepribadian Islam, Al-jawi (dalam www.mii.fmipa.ugm.ac.id, 2008:9).
1.5Tidak berfungsinya guru/dosen dan rusaknya proses belajar mengajar tampak dari peran guru yang sekadar berfungsi sebagai pengajar dalam proses transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), tidak sebagai pendidik yang berfungsi dalam transfer ilmu pengetahuan dan kepribadian (transfer of personality), karena memang kepribadian guru/dosen sendiri banyak tidak lagi pantas diteladani. Lingkungan fisik sekolah/kampus yang tidak tertata dan terkondisi secara Islami (ditambah dengan minimnya sarana pendukung, seperti masjid/mushola) turut menumbuhkan budaya yang tidak memacu proses pembentukan kepribadian peserta didik. Akumulasi kelemahan pada unsur sekolah/kampus itu akhirnya menyebabkan tidak optimalnya pencapaian tujuan pendidikan yang dicita-citakan. Pembentukan karakter siswa yang merupakan bagian terpenting dari proses pendidikan di sini justru kurang tergarap secara serius. Agama ditempatkan sekadar sebagai salah satu aspek yang perannya sangat minimal, bukan menjadi landasan dari seluruh aspek. Di sisi lain, pengajaran agama dan persoalan keagamaan digarap oleh Depag, seolah pendidikan Islami identik dengan pengajaran agama Islam saja, yusanto(dalam www.geocities.com, 2008:4).
1.6Adanya pesantren yang dalam banyak aspek acap dipuji sebagai sebuah bentuk pendidikan Islam alternatif, dalam perspektif ini, sesungguhnya makin mengukuhkan dikotomi pendidikan itu karena telah membuat jarak yang cukup jauh antara pendidikan agama dengan pendidikan umum. Selain itu pendidikan yang sekuler-materialistik ini memang bisa melahirkan orang yang menguasai sains dan teknologi melalui “pendidikan umum” yang diikutinya, tapi pendidikan semacam itu terbukti gagal membentuk kepribadian peserta didik dan penguasaan tsaqofah Islam. Akhirnya, sektor-sektor modern (industri manufaktur, perdagangan dan jasa) diisi oleh orang-orang yang relatif awam terhadap agama karena orang-orang yang mengerti agama terkumpul di dunianya sendiri (madrasah, dosen/guru agama, depag), tidak mampu terjun di sektor modern, yusanto(dalam www.geocities.com, 2008:4).
1.7Pendidikan sekuler-materialistik juga memberikan kepada siswa suatu basis pemikiran yang serba terukur secara material, kekinian dan serba profan serta memungkiri hal-hal yang bersifat transedental dan imanen. Disadari atau tidak, berkembang penilaian bahwa hasil pendidikan haruslah dapat mengembalikan investasi yang telah ditanam. Pengembalian itu dapat berupa gelar kesarjanaan, jabatan, kekayaan atau apapun yang setara dengan nilai materi yang telah dikeluarkan. Agama ditempatkan pada posisi yang sangat individual. Nilai transendental dirasa tidak patut atau tidak perlu dijadikan sebagai standar penilaian sikap dan perbuatan. Tempatnya telah digantikan oleh etik yang pada faktanya bernilai materi juga, yusanto(dalam www.geocities.com, 2008:4)
1.8Dalam sistem sekuler, aturan-aturan, pandangan dan nilai-nilai Islam memang tidak pernah secara sengaja digunakan untuk menata berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan. Agama Islam, sebagaimana agama dalam pengertian Barat, hanya ditempatkan dalam urusan individu dengan tuhannya saja. Maka, di tengah-tengah sistem sekuleristik tadi lahirlah berbagai bentuk tatanan yang jauh dari nilai-nilai agama. Yakni tatanan ekonomi yang kapitalistik, perilaku politik yang oportunistik, budaya hedonistik, kehidupan sosial yang egoistik dan individualistik, sikap beragama yang sinkretistik serta paradigma pendidikan yang materialistik.yusanto(dalam www.geocities.co.).

2.Bagaimanakah sistem pendidikan islam sebagai alternatif pendidikan yang ada di indonesia?
Dari hasil paparan tentang kelemahan sistem pendidikan sekuler ternyata terdapat alternatif sistem pendidikan yang baik diterapkan di Indonesia. Diuraikan sebagai berikut:
2.1Khilafah Islam membuka pintu pendidikan seluas-luasnya kepada masyarakat tanpa biaya sepeserpun. Wajib hukumnya bagi Negara untuk memenuhi dan mempersiapkannya dengan cara membangun dan melengkapi sarana dan prasarana untuk kelancaran pendidikan disetiap jenjang pendidikan(lihat Al baghdadi Sistem Pendidikan di Masa Khilafah Islam, hal 61)
2.2Sistem pendidikan islam mampu menghasilkan keluaran (output) peserta didik yang berkepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyyah), menguasai tsaqofah Islam dan ilmu-ilmu kehidupan (iptek dan keahlian). (lihat Al baghdadi Sistem Pendidikan di Masa Khilafah Islam, hal 25)
2.3Di zaman pemerintahan Islam, paling tidak semenjak 4 H telah banyak dibangun sekolah Islam. Tetapi sebelum sekolah semodel itu dikembangkan, pendidikan ketika itu dilakukan di dalam masjid, majelis-majelis taklim dan tempat-tempat pendidikan lainnya. Muhammad Athiyah Al Abrasi dalam buku Dasar-dasar Pendidikan Islam, memaparkan usaha-usaha para khalifah untuk membangun sekolah-sekolah itu. Dalam perkembangannya, setiap khalifah terus membangun sekolah tinggi Islam dan berusaha melengkapinya dengan sarana dan prasarananya.
2.4Pendidikan dalam pandangan Islam merupakan upaya sadar, terstruktur serta sistematis untuk mensukseskan misi penciptaan manusia sebagai abdullah dan khalifah Allah di muka bumi. Sebagai bagian integral dari sistem kehidupan Islam, sistem pendidikan memperoleh masukan dari supra sistem, yakni keluarga dan masyarakat atau lingkungan, dan memberikan hasil/keluaran bagi suprasistem tersebut. Di dalam lingkungan inilah, hasil pendidikan efektivitas dan efisiensi proses pendidikan yang berlangsung dapat dibuktikan. Dari hasil pendidikan ditambah interaksi dengan lingkungannya, sistem pendidikan memperoleh umpan balik yang dapat digunakan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu proses pendidikan. Adanya kesinambungan tujuan pendidikan dalam setiap jenjang pendidikan sekolah (formal). Kurikulum pendidikan Islam sendiri sangatlah khas, unique. Tampak pada penetapan tujuan/arah pendidikan, unsur-unsur pelaksana pendidikan serta asas dan struktur kurikulum, yusanto (dalam www.geocities.com, 2008:4).

2.2Solusi dan Konsep Sistem Pendidikan Islam
Dari paparan di atas yang berkenaan dengan kelemahan yang sangat fundamental dari sistem pendidikan sekuler-materialistik dianggap perlu untuk mengganti sistem pendidikan ini menjadi sistem pendidikan islam yang terbukti jauh lebih baik untuk mencapai Indonesia lebih baik. Mengenai Sistem Pendidikan Allah SWT befirman:
                                
Artinya: Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.(Al-Mujadillah[58]:11)
Karena itu perlu di paparkan solusi serta konsep secara fundamental sistem pendidikan islam yaitu sebagai berikut :
1Solusi pada Tataran Paradigmatik.
Secara paradigmatik, pendidikan harus dikembalikan pada asas aqidah Islam yang bakal menjadi dasar penentuan arah dan tujuan pendidikan (Lihat Bagan Skematis Akar Masalah Pendidikan dan Solusi Fundamentalnya). Paradigma baru pendidikan yang berasas aqidah Islam itu semestinya juga harus berlangsung secara berkesinambungan mulai dari TK hingga Perguruan Tinggi yang pada ujungnya nanti diharapkan mampu menghasilkan keluaran (output) peserta didik yang berkepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyyah), menguasai tsaqofah Islam dan ilmu-ilmu kehidupan (iptek dan keahlian). Langkah yang diperlukan adalah optimasi pada proses-proses pembentukan kepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyyah) dan penguasaan tsaqofah Islam serta meningkatkan pengajaran sains-teknologi dan keahlian sebagaimana yang sudah ada dengan menata ontologi, epistemologi dan aksiologi keilmuan yang berlandaskan pada nilai-nilai Islam, sekaligus mengintegrasikan ketiganya seperti yang tampak pada Bagan Solusi Orientasi Pendidikan. Optimasi dan Integrasi. Ketiga unsur tersebut harus merupakan satu kesatuan yang utuh. Al-jawi (dalam www.mii.fmipa.ugm.ac.id, 2008:7)
2Solusi pada Tataran Strategi Fungsional
Pendidikan yang integral harus melibatkan tiga unsur pelaksana: yaitu keluarga, sekolah/kampus dan masyarakat. Bagan Faktual 3 Unsur Pelaksana Pendidikan. di tengah masyarakat terjadi interaksi antar ketiganya, maka kenegatifan masing-masing itu juga memberikan pengaruh kepada unsur pelaksana pendidikan yang lain. Maksudnya, buruknya pendidikan anak di rumah memberi beban berat kepada sekolah/kampus dan menambah keruwetan persoalan di tengah masyarakat seperti terjadinya tawuran pelajar, seks bebas, narkoba dan sebagainya. Sementara, situasi masyarakat yang buruk jelas membuat nilai-nilai yang mungkin sudah berhasil ditanamkan di tengah keluarga dan sekolah/kampus menjadi kurang optimum. Apalagi bila pendidikan yang diterima di sekolah juga kurang bagus, maka lengkaplah kehancuran dari tiga pilar pendidikan tersebut.
Dalam pandangan sistem pendidikan Islam, semua unsur pelaksana pendidikan harus memberikan pengaruh positif kepada anak didik sedemikian sehingga arah dan tujuan pendidikan didukung dan dicapai secara bersama-sama. Solusi strategis fungsional sebenarnya sama dengan menggagas suatu sistem pendidikan alternatif yang bersendikan pada dua cara yang lebih bersifat strategis dan fungsional, yakni: Pertama, membangun lembaga pendidikan unggulan dimana semua komponen berbasis paradigma Islam, yaitu: (1) kurikulum yang paradigmatik, (2) guru/dosen yang profesional, amanah dan kafa’ah, (3) proses belajar mengajar secara Islami, dan (4) lingkungan dan budaya sekolah/kampus yang kondusif bagi pencapaian tujuan pendidikan secara optimal. Kedua, membuka lebar ruang interaksi dengan keluarga dan masyarakat agar keduanya dapat berperan optimal dalam menunjang proses pendidikan, yusanto (dalam www.geocities.com, 2008:4).
3Tujuan pendidikan
Tujuan pendidikan adalah suatu kondisi ideal dari obyek didik yang akan dicapai, ke arah mana seluruh kegiatan dalam sistem pendidikan di arahkan. Maka, sebagaimana pengertiannya, pendidikan Islam yang merupakan upaya sadar yang terstruktur, terprogram dan sistematis bertujuan untuk membentuk manusia yang (1) berkepribadian Islam, (2) menguasai tsaqofah Islam, (3) menguasai ilmu kehidupan (sainsteknologi dan keahlian) yang memadai. (Lihat Bagan Ideal Orientasi Pendidikan).

3.1Membentuk Kepribadian Islam (Syakhshiyyah Islamiyyah)
Pada prinsipnya, ada tiga langkah untuk membentuk dan mengembangkan kepribadian Islam pada diri seseorang, sebagaimana dicontohnya Rasulullah SAW. Pertama, menanamkan aqidah Islam kepada yang bersangkutan dengan metode tepat, yakni yang sesuai dengan kategori aqidah Islam sebagai aqidah aqliyyah (aqidah yang keyakinannya dicapai melalui proses berfikir). Kedua, mengajaknya bertekad bulat untuk senantiasa menegakkan bangunan cara berpikir dan perilakunya di atas pondasi ajaran Islam semata. Ketiga, mengembangkan kepribadiannya dengan cara membakar semangatnya untuk bersungguh-sungguh mengisi pemikirannya dengan tsaqofah Islamiyyah dan mengamalkan dan memperjuangkannya dalam seluruh aspek kehidupannya sebagai wujud ketaatan kepada Allah SWT. Pendidikan, melalui berbagai pendekatan, harus menjadi media untuk memberikan dasar bagi pembentukan, peningkatan, pemantapan dan pematangan kepribadian anak didik, (lihat Al baghdadi Sistem Pendidikan di Masa Khilafah Islam, hal 25).
3.2Menguasai tsaqafah islam
Tujuan kedua ini juga merupakan konsekuensi (lanjutan) dari kemusliman seseorang. Islam mendorong setiap muslim untuk menjadi manusia yang berilmu dengan cara men-taklif-nya (memberi beban hukum) kewajiban menuntut ilmu. Imam Al Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, membagi ilmu dalam dua kategori dilihat dari sisi kewajiban menuntutnya. Pertama ilmu yang dikategorikan sebagai fardu a’in, yakni ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap individu muslim. Ilmu yang termasuk dalam golongan ini adalah ilmu-ilmu tsaqofah Islam, yakni pemikiran, ide dan hukum-hukum (fiqh) Islam, bahasa Arab, sirah nabawiyah, ulumu al-Qur’an, ulumu al-Hadits dan sebagainya. Kedua adalah ilmu yang dikategorikan sebagai fardu kifayah, yaitu ilmu yang wajib dipelajari oleh sebagian dari umat Islam. Ilmu yang termasuk dalam golongan ini adalah sains dan teknologi serta berbagai keahlian, seperti kedokteran, pertanian, teknik dan sebagainya, yang sangat diperlukan bagi kemajuan material masyarakat. Tsaqofah Islamiyyah di samping sains dan teknologi, membuktikan bahwa Islam membentengi manusia dengan menjadikan aqidah Islam sebagai satu-satunya asas bagi kehidupan seorang muslim. Sebagai bagian dari tsaqafah islamiyah bahasa arab kemudian dijadikan sebagai bahasa umat islam yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pengajaran. Tidak boleh menggunakan bahasa selain bahasa arab.(lihat al-baghdadi Sistem Pendidikan di Masa Khilafah Islam, 40)
3.3Menguasai ilmu kehidupan (iptek dan keahlian)
Kewajiban untuk menguasai ilmu kehidupan (iptek dan keahlian) diperlukan agar umat Islam dapat meraih kemajuan material sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifah Allah SWT dengan baik di muka bumi ini. Pada hakikatnya ilmu pengetahuan terdiri atas dua hal, yakni pengetahuan yang dapat mengembangkan akal pikiran manusia – sehingga ia dapat menentukan suatu tindakan (aksi) tertentu – dan pengetahuan mengenai perbuatan itu sendiri. (lihat al-baghdadi Sistem Pendidikan di Masa Khilafah Islam, 43)

4Unsur Pelaksana Pendidikan
Berdasarkan pengorganisasian, proses pendidikan bisa dibagi menjadi dua, yakni secara formal di sekolah/kampus dan secara nonformal di luar kampus-sekolah/lingkungan, yakni keluarga dan masyarakat. (Lihat Bagan Ideal Unsur Pelaksana Pendidikan).
4. 1Pendidikan di Sekolah/kampus
Pendidikan di sekolah/kampus pada dasarnya merupakan proses pendidikan yang diorganisasikan secara formal berdasarkan struktur hierarkhis dan kronologis. berlangsungnya proses pendidikan di sekolah/kampus sangat bergantung pada keberadaan subsistem-subsistem lain yang terdiri atas: anak didik (pelajar/mahasiswa); manajemen penyelenggaraan sekolah/kampus; kurikulum, fasilitas, dll.
Berdasar sirah Rasul dan tarikh Daulah Khilafah pendidikan formal dapat dideskripsikan sebagai berikut:
Kurikulum pendidikan, mata ajaran, dan metodologi pendidikan disusun berdasarkan pada Aqidah Islam.
Tujuan penyelenggaraan pendidikan merupakan penjabaran dari tujuan pendidikan Islam yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan.
Sejalan dengan tujuan pendidikan, waktu belajar untuk ilmu-ilmu Islam (tsaqofah Islamiyyah) diberikan dengan proporsi yang disesuaikan dengan pengajaran ilmu-ilmu kehidupan (iptek dan keahlian).
Pelajaran ilmu-ilmu kehidupan (iptek dan keahlian) dibedakan dari pelajaran guna membentuk syakhsiyyah Islamiyah dan tsaqofah Islamiyyah.
Bahasa Arab menjadi bahasa pengantar di seluruh jenjang pendidikan, baik negeri maupun swasta.
Materi pelajaran yang bermuatan pemikiran, ide dan hukum yang bertentangan dengan Islam hanya diberikan pada tingkat pendidikan tinggi yang tujuannya hanya untuk pengetahuan, bukan untuk diyakini dan diamalkan.
Pendidikan di sekolah tidak membatasi usia. Yang ada hanyalah batas usia wajib belajar.
Penyelenggaraan kegiatan olahraga dilangsungkan secara terpisah bagi murid laki-laki dan perempuan.
Pendidikan diselenggarakan oleh negara secara gratis atau murah. Swasta bisa menyelenggarakan pendidikan asal visi, misi dan sistem pendidikan yang dikembangkan tidak keluar dari ajaran Islam.
Dalam kehidupan sekuler seperti saat ini, peran penting sekolah/kampus sangat terasa, mengingat bahan masukannya berasal dari suprasistem yang sekuler. Beban sekolah bertambah berat manakala ia pun harus mampu mensterilkan sekolah dari gempuran pengaruh negatif yang datang dari kedua suprasistem.
4. 2Pendidikan di keluarga
Keluarga merupakan tempat pendidikan yang pertama dan utama. karena ia menjadi peletak pondasi kepribadian anak. Upaya pendidikan dalam keluarga sebenarnya telah dan harus dimulai sejak usia anak dalam kandungan hingga menginjak usia baligh dan memasuki jenjang pernikahan; dan bahkan akan terus berlangsung hingga usia tua.
4. 3Pendidikan di Masyarakat
Pendidikan di tengah masyarakat pada hakikatnya juga merupakan proses pendidikan sepanjang hayat. Dalam sistem Islam, masyarakat merupakan salah satu elemen penting penyangga tegaknya sistem selain ketaqwaan individu serta keberadaan negara sebagai pelaksana syariat Islam. Masyarakat berperan mengawasi anggota masyarakat lain dan penguasa dalam pelaksanaan hukum syariat Islam. Masyarakat Islam terbentuk dari individu-individu yang dipengaruhi oleh perasaan, pemikiran, dan peraturan Islam yang mengikat mereka sehingga menjadi masyarakat yang solid. Dari sinilah amar ma’ruf nahi munkar menjadi bagian yang paling esensial yang sekaligus membedakan masyarakat Islam dengan masyarakat lainnya. Ketaqwaan individu anggota masyarakat di samping ditentukan oleh upaya pribadi, juga sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan anggota masyarakat lain dan nilai-nilai yang berkembang di tengah masyarakat.

5Asas Pendidikan
Penetapan aqidah Islam sebagai asas pendidikan tidaklah berarti bahwa setiap ilmu pengetahuan harus bersumber pada aqidah Islam, karena memang tidak semua ilmu pengetahuan terlahir dari aqidah Islam. Yang dimaksud dengan menjadikan aqidah Islam sebagai asas atau dasar dari ilmu pengetahuan adalah dengan menjadikan aqidah Islam sebagai standar penilaian. Dengan kata lain, aqidah Islam difungsikan sebagai kaidah atau tolak ukur pemikiran dan perbuatan.

6Struktur Kurikulum
Kurikulum pendidikan Islam di sekolah/kampus dijabarkan dalam tiga komponen utama, yakni: (1) Pembentukan Syakhsiyyah Islamiyyah (Kepribadian Islami), (2) Tsaqofah Islam dan (3) Ilmu Kehidupan (Iptek dan keahlian). tsaqofah Islam dan Ilmu Kehidupan (Iptek dan keahlian) diberikan secara bertingkat sesuai dengan daya serap dan tingkat kemampuan anak didik berdasarkan jenjang pendidikannya masing-masing, (Lihat Tabel Struktur dan Performa Komponen Kurikulum). Pertama, Pada tingkat dasar atau menjelang usia baligh (TK dan SD), penyusunan struktur kurikulum sedapat mungkin bersifat mendasar, umum, terpadu dan merata bagi semua anak didik yang mengikutinya. Pembentukan syakhshiyyah Islamiyyah harus dilakukan pada semua jenjang pendidikan sesuai dengan proporsinya melalui berbagai pendekatan. Salah satu diantaranya adalah dengan menyampaikan tsaqofah Islam kepada para siswa/mahasiswa. Seperti tampak pada (Tabel Struktur dan Performa Komponen Kurikulum, Tabel Pendekatan Terpadu Pembentukan Syakhsiyah Islamiyah dan Tabel Indikator Kematangan Syakhsiyah Islamiyah Siswa), pada tingkat TK hingga SD materi Syakhsiyyah Islamiyyah yang diberikan adalah Materi Dasar. Setelah mencapai usia baligh, yakni pada SMP, SMU dan PT, materi yang diberikan bersifat Lanjutan (Pembentukan, Peningkatan dan Pematangan). ). Hal ini dimaksudkan untuk memelihara dan sekaligus meningkatkan keimanan serta keterikatan dengan syariat Islam. Indikatornya adalah bahwa anak didik dengan kesadarannya melaksanakan seluruh kewajiban dan mampu menghindari seluruh larangan Allah.
Kedua, Tsaqofah Islam adalah ilmu-ilmu yang dikembangkan berdasar aqidah Islam, yang sekaligus menjadi sumber peradaban Islam. Materi ini diberikan di seluruh jenjang pendidikan secara proporsional. Materi yang diberikan adalah:
Aqidah Islamiyyah
Pemikiran Islam
Bahasa Arab
Ushul Fiqih
Akhlaq
Fiqh muamalah
Sirah Nabawiyah
Dakwah Islamiyyah
Ulumu dan tahfidzu al-Qur’an
Ulumu dan tahfidzu al-Hadits
Fiqih Fardiyah (ibadah, makanan, minuman dan pakaian)

Materi tsaqofah Islam sebagaimana digambarkan pada Tabel Struktur dan Performa Komponen Kurikulum, diberikan secara bertingkat sesuai dengan tingkat kemampuan dan daya serap anak didik dari tingkat TK hingga PT.
Ketiga, Muatan yang ketiga ini diberikan secara bertingkat sesuai dengan perkembangan kemampuan anak. Di jenjang pendidikan tinggi, pengajaran ilmu ini lebih terfokus.

7Dana, Sarana dan Prasarana
Berdasarkan sirah Nabi SAW dan tarikh Daulah Khilafah – sebagaimana disarikan oleh Al Baghdadi (1996) dalam buku Sistem Pendidikan di Masa Khilafah Islam, negara memberikan pelayanan pendidikan secara cuma-cuma (bebas biaya) dan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dengan fasilitas (sarana dan prasarana) sebaik mungkin. Kesejahteraan dan gaji para pendidik sangat diperhatikan. Dana pendidikan ditanggung negara yang diambil dari kas baitul maal. Sistem pendidikan bebas biaya dilakukan oleh para shahabat (ijma), termasuk pemberian gaji yang sangat memuaskan kepada para pengajar yang diambil dari baitul maal.
8Kendala dan Upaya
Model pendidikan atau sekolah unggulan seperti itu jelas hanya dapat diterapkan oleh negara karena negaralah yang memiliki seluruh otoritas yang diperlukan bagi penyelenggaraan pendidikan yang bermutu, termasuk penyediaan dana yang mencukupi, sarana, prasarana yang memadai dan sumberdaya manusia yang bermutu. Dalam membangun model pendidikan sebagaimana yang dikehendaki Islam saat ini tentu saja akan menghadapi kendala utama, yakni belum diterapkannya bangunan sistem Islam secara menyeluruh dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Mengingat kendala di atas, maka tahap pertama bisa ditempuh aksi individual atau kelompok yang dibenarkan oleh hukum syara dan memenuhi persyaratan sebagai lembaga pendidikan Islam, dari mulai asas kurikulumnya hingga operasionalisasi pendidikan keseharian. Tahap berikutnya, secara simultan bersamaan dengan tahap pertama tadi harus diperjuangkan tegaknya sistem pendidikan Islami oleh negara sebagai bagian dari sistem Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

BAB III
PENUTUP
Pada bagian ini dikemukakan beberapa hal, yaitu: (1) simpulan dan (2) saran. Hal-hal tersebut akan diuraikan sebagai berikut :

5.1Simpulan dan Saran
Berdasarkan data yang penulis peroleh dari hasil paparan dan pembahasannya, maka penulis dapat memperoleh kesimpulan dan saran untuk melengkapi hasil akhir dari penulisan.

5.1.1Simpulan
Berdasarkan deskrepsi serta analisis tentang sistem pendidikan. Adapun simpulan secara rinci dapat diuraikan sebagai berikut :
1.Sistem pendidikan sekuler-materialistik terbukti telah gagal melahirkan manusia shaleh yang sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan melalui penguasaan sains dan teknologi.
2.sistem pendidikan sekuler telah memisahkan antara pendidikan agama dengan pendidikan islam. Bahkan terjadi dikotomi pendidikan yang semakin memperburuk keadaan pendidikan yang ada di Indonesia.
3.Sistem pendidikan islam mampu menghasilkan keluaran (output) peserta didik yang berkepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyyah), menguasai tsaqofah Islam dan ilmu-ilmu kehidupan (iptek dan keahlian).
4.Secara paradigmatik, pendidikan harus dikembalikan pada asas aqidah Islam yang bakal menjadi dasar penentuan arah dan tujuan pendidikan.
5.Pendidikan yang integral harus melibatkan tiga unsur pelaksana: yaitu keluarga, sekolah/kampus dan masyarakat. Dalam pandangan sistem pendidikan Islam, semua unsur pelaksana pendidikan harus memberikan pengaruh positif kepada anak didik sedemikian, sehingga arah dan tujuan pendidikan didukung dan dicapai secara bersama-sama.
6.Kurikulum pendidikan Islam di sekolah/kampus dijabarkan dalam tiga komponen utama, yakni: (1) Pembentukan Syakhsiyyah Islamiyyah (Kepribadian Islami), (2) Tsaqofah Islam dan (3) Ilmu Kehidupan (Iptek dan keahlian).
7.Negara memberikan pelayanan pendidikan secara cuma-cuma (bebas biaya) dan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dengan fasilitas (sarana dan prasarana) sebaik mungkin. Dana pendidikan ditanggung negara yang diambil dari kas baitul maal.
8.Untuk upaya membangun sistem pendidikan islam ada 2 tahap; tahap pertama bisa ditempuh aksi individual atau kelompok yang dibenarkan oleh hukum syara dan memenuhi persyaratan sebagai lembaga pendidikan Islam, dari mulai asas kurikulumnya hingga operasionalisasi pendidikan keseharian. Tahap berikutnya, secara simultan bersamaan dengan tahap pertama tadi harus diperjuangkan tegaknya sistem pendidikan Islami oleh negara sebagai bagian dari sistem Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
9.Tapi kegiatan ini tidak boleh melupakan agenda besarnya, yakni perjuangan penegakan kehidupan Islam yang di dalamnya seluruh aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara, termasuk di bidang pendidikan, diatur dengan syariah. Hanya dengan cara itu saja, kerahmatan syariah dapat benar-benar diujudkan. Insya Allah.

5.1.2Saran
Sebagai upaya untuk menyempurnakan sistem pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik, maka penulis menyarankan beberapa hal antara lain sebagai berikut:
1.Departemen Pendidikan Nasional hendaknya menyadari bahwa betapa pendidikan sekularisme-materialistik yang ada sekarang justru telah gagal mencetak generasi yang shaleh sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan melalui penguasaan sains dan teknologi.
2.Sudah selayaknya sistem pendidikan yang ada sekarang diganti dengan sistem pendidikan islam sebagai alternatif yang terbukti jauh lebih baik dari sistem pendidikan yang ada sekarang.
3.Diperlukan adanya sebuah Negara yang menerapkan sistem pendidikan islam. Karena hanya negaralah yang memiliki seluruh otoritas yang diperlukan bagi penyelenggaraan pendidikan yang bermutu.

DAFTAR PUSTAKA

Al-baghdadi, Abdurrahman. 1996. Sistem Pendidikan di Masa Khilafah Islam. Surabaya: al-Izzah.
Al-ghazali, Imam. 1997. Mutiara Ihya Ulumuddin. Jakarta: Mizan
Freire, Paulo. 2002. Politik Pendidikan Kebudayaan, Kekuasaan dan kebebasan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Joesoef, Soelaiman, Drs dan Santoso, Slamet, Drs. 1981. Pendidikan Luar Sekolah. Surabaya: CV. Usaha Nasional
“MelawanLiberalisasi Pendidikan Tinggi” dalam www.khilafah1924.org, 9 juli 2008
“Menggagas Kembali Konsep Sistem Pendidikan Islam” dalam www.geocities.com, 4 juli 2008
O’neill, William f. 2002. Ideologi-Ideologi Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
“Pembiayaan Pendidikan Dalam Islam” dalam www.khilafah1924.org, 9 juli 2008
“Pendidikan di Indonesia : Masalah dan Solusinya” dalam www.mii.fmipa.ugm.ac.id, 9 Juli 2008
Problematika Sistem Pendidikan Indonesia dan Gagasan Pendidikan Berbasis Syari’ah” dalam www.Syabab.com, 9 Juli 2008.
“Revitalisasi Pendidikan Pesantren” dalam www. indonesian.irib.ir, 4 juli 2008
Saukah,Ali.1996. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah: Skripsi, Tesis, Disertasi, Artikel, Makalah, Laporan Penelitian Edisi ke-3. Malang: Penerbit IKIP Malang
Setiawan, Benni. 2006. Manifesto Pendidikan Indonesia. Yogyakarta: ar-ruzz media
Shaleh, Abdurrachman.2006.Pendidikan Agama dan Pembangunan Watak Bangsa. Jakarta: PT Raja Grafindo Surabaya
“Sistem Pendidikan Dalam Ideologi Sekuler-Kapitalisme : Studi Kasus Sistem Pendidikan Amerika” dalam www.gemagitasi.blogspot.com, 9 Juli 2008
“Wajah Buruk Pendidikan di Indonesia” dalam www.hakim20.wordpress.com, 9 juli 2008

BIODATA PESERTA

Nama Lengkap : Fauzan
Tempat dan Tanggal Lahir : Meulaboh, 4 April 1989
Jenis Kelamin : Laki-laki
Kedudukan : Mahasantri Ibnu sina
Fakultas : Sains dan Teknologi
Jurusan/Kelas : Teknik Arsitektur/B
NIM : 07660044
Alamat Ma’had : Jln. Gajayana 50.
Mabna Ibnu Sina kamar 14
Ma’had Sunan Ampel Al-‘Aly
Universitas Islam Negeri Malang
Alamat Rumah : Jln. Cut Nyak Dhien 23
Kel. Kampung Belakang
Kec. Johan Pahlawan
Kab. Aceh Barat
Kode Pos. 23612
Prov. NAD
Telp. 085260684898
Kegemaran (hobi) : Menulis, Membaca dan Berpetualang
E-mail : Fauzan_revolt@yahoo.co.id
Blog : www.fauzan369.wordpress.com
Cita-cita Pribadi : Penulis, Enterpreneur
Bidang Ilmu yang digemari : Arsitektur
Nama Orang tua
a. Ayah : Zulbahri T.
b. Ibu : Marhaini said, BA
Pekerjaan Orang tua
a. Ayah : Swasta
b. Ibu : PNS
Pendidikan Orang tua
a. Ayah : SMEA
b. Ibu : D-III

Prestasi yang pernah diraih :
Juara II Lomba Kompetensi Siswa SMK tingkat provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Bidang Keahlian Building CAD. Tahun 2006.

Daftar lampiran

Tabel Struktur dan Performa Komponen Kurikulum
JENJANG
PENDIDIKAN

TK

SD

SMP

SMU

PT
KOMPONEN
MATERI

Pembentukan
Syakhsiyyah Islamiyyah

Pembentukan

Pematangan
Dasar-dasar

Tsaqofah Islam

5

4

3

2
1

Ilmu Kehidupan
- Iptek /keahlian
- Keterampilan

5

4

3

2
1

Tabel Pendekatan Terpadu Pembentukan Syakhshiyyah Islamiyyah
No
JENIS
PENDEKATAN
IMPLEMENTASI
MATERI
INDUK
PELAKSANA
1.
Formal
struktural
Dilakukan melalui kegiatan tatap muka formal dalam jam belajar-mengajar resmi.

Tsaqofah Islam
Guru
2.
Formal- nonstruktural
Dilakukan melalui proses pencerapan nilai-nilai Islam dalam setiap mata ajaran yang diberikan kepada siswa, diantaranya melalui internalisasi nilai tauhid.

Iptek
Guru
3.
Keteladanan
Diberikan dalam wujud contoh nyata amaliyah harian (akhlak & ibadah) di lingkungan sekolah.

Tsaqofah Islam

Guru,
Pengelola pendidikan
4.
Penerapan
budaya sekolah (school culture)

Diterapkan melalui pengamalan syariat Islam secara nyata, baik menyangkut akhlak, ibadah, pergaulan, kebersihan atau hal lain, yang ditunjang dengan proses pembiasaan dalam penerapan aturan beserta sanksinya.
Tsaqofah Islam
dan penerapan
Aturan sekolah
Guru,
Pengelola Pendidikan
5.
Pembinaan pergaulan
antar siswa
Dilakukan dalam suasana ukhuwah Islamiyyah dengan standar kepribadian Islam, antara lain saling menyayangi dan menghormati, serta saling mengingatkan.
Tsaqofah Islam
dan penerapan aturan
Guru,
Pengelola Pendidikan
dan
siswa
6.
Amaliyah ubudiyah
harian

Dilakukan dengan pembiasaan shalat berjamaah.
Tsaqofah Islam
dan penerapan aturan
Guru,
Pengelola pendidikan
dan
siswa

Tabel Indikator Kematangan Syakhshiyyah Islamiyyah Siswa
KOMPONEN
ASPEK
URAIAN INDIKASI

AQLIYYAH

Memahami aqidah
Islam
Dan menjadikanya sebagai landasan berpikir.

AFKAR
(pemikiran)

&

ARA’
(pendapat)
Aqidah
Memahami dan mengimani seluruh perkara aqidah Islam.
Syariat
Memahami pemikiran syariat Islam.
Problematika umat
Memahami problematika umat dan ide-ide yang bertentangan dengan Islam.
Dakwah
Memahami ihwal kewajiban dakwah dan thariqah dakwah Rasul SAW.

AHKAM
(hukum)
Ibadah

Memahami hukum Islam yang berkaitan dengan ibadah, halal dan haramnya makanan dan minuman, pakaian, akhlaq, muamalah (aspek ekonomi, sosial, pemerintahan), uqubah.
Makanan/
Minuman
Pakaian
Akhlaq
Muamalah
Uqubah
NAFSIYAH

Menjadikan syariat
Islam
Sebagai
tolok
ukur
perbuatan
Ibadah
Selalu melaksanakan ibadah dengan khusyu’ sesuai syariat
Makanan/
Minuman
Selalu mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal.
Pakaian
Selalu menutup aurat.
Akhlaq
Selalu menampakkan akhlakul karimah, giat menuntut ilmu dan memiliki etos berprestasi
Muamalah
Selalu bermuamalah secara Islam.
Dakwah
Bersedia terlibat dalam dakwah bagi tegaknya kembali izzul Islam wa al-muslimin.

THE GREATEST

Angin masih berhembus. Butir-butir pasir masih beterbangan. Awan2 hitam belum lagi pergi. Tangisan langit belum lagi reda. Aliran darah kami masih deras walaupun ia tidak akan berhenti tertumpah. Bebatuan masih keras berbicara, saat kami memaksa bicara. Kami kandung bebatuan itu, lalu kami sandang kalimat suci. Jernih mata kami memandang. Lelah sudah lama kami lupakan. Angan kami jauh menerawang kebelakang. Saat cahaya masih terang benderang. Saat matahari diatas cakrawala, mengambang. Diri2 hangat. Senyum tak pernah habis. Hati tak pernah duka tunas2 tumbuh dibawah lindungan keperkasaan. Bunga-bunga mekar tanpa ada yang berani merenggutnya dengan paksaan. Pikiran melesat menembus batas angkasa raya. Cita2 mulia menyelimuti dunia. Manusia aman sentosa tanpa cela. Mereka tidak pernah berhenti membesarkan penciptanya.
Angan kami jauh menerawang kebelakang. Saat cahaya masih terang benderang. Saat matahari masih menyinari diri diatas cakrawala, mengambang. Kami jaga dia. Keringat dan darah rela kami persembahkan untuknya. Hanya dia yang akan memberi kami segala-galanya. Hanya dengan dia kami akan melawan semuanya. Dia diri kami. Dia kekuatan kami. Dia nafas kami. Dia nyanyian hidup kami. Keringat dan darah pasti akan kami persembahkan untuk membelanya. Demi diri kami sendiri. Juga demi siapapun yang lahir setelah kami. Ratusan tahun dunia tunduk. Ratusan tahun manusia takluk. Mereka hargai dan takuti kami, karenanya. Bumi jadi tempat yang megah. Dimana setiap jiwa terjaga dari dosa. Dimana setiap harapan punya tempat yang terang untuk diwujudkan. Dimana mawar2 merah dijaga kehormatannya. Dimana taman-taman bunga semerbak mengharumi dunia. Saat orang lain gelap hitam. Kami merajai dunia, karenanya. Saat orang lain buta, mata kami terang ditunjukinya. Ketinggian kami tidak mungkin dijamah karena dia. Kami jaga dia. Segala yang kami punya rela kami persembahkan untuknya. Demi diri kami sendiri. Demi siapapun yang lahir setelah kami….
Waktu orang lain sesat, kami tetap lurus dirunjukinya. Waktu orang lain tidak punya tempat bergantung,kami kokoh kuat ditopangnya. Mereka berdiri dengan pongah. Merasa iri dan tidak tahu diri. Merka menghancurkan kami dari segala arah. Tapi dengannya, tidak ada satu makhlukpun yang mampu mengalahkan kami. Hingga suatu saat, perlahan-lahan, cahayanya mulai pudar menyinari dalam diri kami. Awan mendung turun mengitari diri kami. Semua mulai gelap. Hingga cahayanya pergi. Keagungan kami hilang. Kesabaran kami punah, karena salah kami sendiri. Bunga yang mekar hancur direnggut orang. Tunas-tunas yang tumbuh hancur dipotong parang. Makhluk sesat maju menyerbu kami dengan garang.
Dia sudah pergi tak ada lagi dari diri kami. Sesuatu yang seharusnya kami sadari. Diri-diri kami diinjak-injak orang. Tak pernah ada lagi kemuliaan. Darah kami tak pernah berhenti ditumpahkan, hanya karena tamak, iri dan kegilaan. Badan kami dikoyak-koyak. Gelap, sudah sempurna menyelimuti dunia. Cahayanya sudah pergi tak ada lagi sentosa. Harapan sudah putus, pupus mereka cabik. Nafas-nafas kami sudah tercekat dihambat merka makhluk-makhluk sesat. Mereka berkeliaran. Liar nyala matanya. Darah dari senyumnya. Hunus belati ditangannya. Pongah mereka dalam tegaknya. Mereka merasa menang. Kegelapan akan terus mereka sebarkan, tanpa menyisikan satu cahaya saja. Mereka jahat. Sejahat iblis dineraka.
Satu hal…….. cahayanya tidak akan pernah hilang. Jika dia hilang dari diri-diri kami, kami akan menyalakannya lagi. Akan kami jaga dia. Akan kami serahkan nyawa, keringat dan darah kami padanya, demi diri kami sendiri. Juga demi siapapun yang ada setelah kami. Karena dia adalah kami. Dialah nyanyian hidup kami. Dialah nafas kami. Dia kekuatan kami. Dengannya, akan kami lawan semuanya. Angan harus dihentikan. Bebatuan tidur dalam genggaman. Kalimat suci wajib kami junjungkan. Kami punya masa lalu yang cemerlang, yang akan kami kembalikan seutuhnya. Dengannya sebagai penunjuk jalan. Penerang dikegelapan. Hingga kemuliaan ada pada diri kami lagi. Kami menyongsong segalanya. Dengan dia sebagai kekuatan. Demi diri kami sendiri, juga demi siapapun yang lahir setelah kami.
Jernih mata kami memandang…lelah sudah lama kami lupakan…kini saatnya untuk berjuang… mengembalikan segalanya yang Telah lama hilang…[]

The Never land

It’s extremely amazing place nobody has ever seen that before, or let me call this with the never land, dream land or wonder land…..whatever!! Even though, I didn’t find any magician here like Hogwart; Harry Potter’s school, the flying boys and the pirates like in the fairy tail of Peter Pan, let alone a god family as the mythology of Hercules; Zeus’ son from Olympus, but the place I described was different with the others.
The area was enormous, it was surrounded by green mountains, forests, blue lake and sea, covered by unimaginable sceneries and magnificent buildings like a castle and adorned by the sound of wild animals from the forests, while splashing of waves heard clearly from the sea. An enormous mosque stood in the centre with four high minarets surrounded it, those faced the sky as if challenged the width of it.
The marvelous thing, the people lived here were from the whole tribe and race in the earth, they had a different cultures and religions, but they could live in peace within one place, even one house. They were very kind; every time they meet they used to guess one each other. Arabic was the language they used to speak, so it wasn’t strange to know how they understood Koran; holy book of Islam religion well and practiced it in their daily life.
Honestly, I didn’t know how the way I came here, I couldn’t cram enough into my head, the one I still remembered, I came to the classroom and sit, then a beautiful girl came and brought me here, she wore a grey veil. The spectacles in her face showed how brilliant she was. I felt she wasn’t somebody else for me, I ever recognized her face, but I forgot her name. Her sweet smile to me added the beating of my heart; she was too elegant to see.
The girl then told everything about this land, she spoke Arabic and said this area namely Caliphate Nation with sharia law as the system, therefore the land came into prosperity and peace because Islam was held and done here. Her story reminded me about Indonesia; republic nation used secularism and capitalism as the system for public. No sharia law in that country to this very day, therefore the country was full with the chaos everyday. I hated Indonesia, but I couldn’t leave it anyway, Indonesia was my homeland.
I had just remembered, I had been together for some times with the girl, but I still didn’t know her name, and the answer shocked me as I ordered her to introduce her self, she said, I was her husband, then she looked at me deeply. I tried to find a lie in her eyes but it was nothing, suddenly she approached me and held my hand tightly, then she tried to kiss me. I could do nothing to prevent her want and suddenly my sight blurred; everything faded away. No land with beautiful scenery and the kind residents, no beautiful girl with a grey veil and spectacles and no kiss. Everything disappeared. The one left was my self on the chair of classroom. I had just dreamed….
Several minutes ago, I came to the classroom to officiate the meeting of my organization, but nobody came, then I waited, fell a sleep and dreamed. I rubbed my eyes to make me realize I wasn’t dreaming anymore. I started to open the book I brought. Read the book, I heard the door was knocked, a beautiful girl wore a grey veil and spectacles came inside. She was the student of Arabic letters department, also the treasurer of my organization. To see her in a glance, I knew, she was the girl in my dream. (R.Bagus M.E.P.-06320053)

Arsitektur Mesjid Sulaiman (bukti kebesaran Khilafah Utsmaniyah)

Sejarah Pembangunan
Sebagai pendapat arsitektural oleh sang penguasa, dalam susunan arsitektur yang hebat dari komplek suleyman, yaitu sinan aga telah memulai pembangunannya pada tahun 1550, mengungguli seluruh bangunan masjid para sultan di masa lalu.sesudah keberhasilan sebagai tentara dari ayahnya Selin di Syiria, mesir, dan keberhasilan dakwahnya di Iraq dan Balkan, khalifah suleyman atau orang eropa biasa menyebutnya ” Suleyman The Magnificent ” (1520-1566) telah menguasai seluruh pemerintahan global dan tingkat arsitektur dunia yang memberikan kesan yang nyata atas kekuasaannya. Di akhir abad ke 16 ahli sejarah masa kekhilafahan utsmaniyah yakni mustofa ali menjabarkan bahwa gedung-gedung di masa sulaiman hampir seberharga penaklukannya sebagai tanda atas kehebatannya yang tidak tertandingi.
Sang khalifah secara pribadi telah memilih sebuah wilayah yang terletak di lereng di atas golden horn, terdapat kedamaian yang luar biasa pada tanah tersebut sesudah terjadi kebakaran di old palace yang akhirnya membuat sang khalifah pindah ke istana Topkapi.Bangunan tersebut di bangun untuk mengangkat wilayah ini semegah Dome of The Rock di temple mount, Jarussalem. Komplek tersebut di beri nama Suleymaniye oleh Sultan Sulaiman.
Setelah memperpanjang kerja dalam perencanaan dan pemetaan, batu pertama kemudian di letakkan oleh khalifah pada tanggal 13 juni 1550, menurut para ahli astrologi, tanggal itu di anggap tanggal yang bertuah.
Pada saat pembangunan, terjadi banyak kesalahan dari sang arsitek yang akhirnya membuat sang khalifah memutuskan untuk menarik pembangunan dari konstruksi besar ini, keraguan akan kecakapan arsitek timbul. Beberapa lama kemudian pembangunan dilanjutkan kembali, Khalifah mempercayai kembali Sinan dan memintanya untuk melengkapi mesjid tersebut dalam waktu yang singkat, pada awalnya hal ini menjadi beban bagi Sinan tetapi dia memulai terbiasa dengan hal tersebut, setelah periode masa-masa siang dan malam untuk bekerja dengan adanya panggilan-panggilan dari sang khalifah, Sinan merasa berat hati tetapi Sinan menjadikannya sebagai ibadah dan bentuk keta’atan kepada ulil amri yaitu khalifah Sulaiman al-qanuni dan Sinan akhirnya menyelesaikan prosek tersebut pada oktober 1957.
Kekuatan ekonomi kekhilafahan ustmaniyah sangat memungkinkan proyek pembangunan yang besar hingga batasan luas yang yang tidak di ketahui hingga saat ini, orang-orang miskin mendapatkan fasilitas kesehatan, pendidikan, serta makanan yang gratis. Hampir tidak ada orang miskin pada saat itu. Semuanya hidup sejahtera dalam naungan negara Islam tersebut. intinya masa kekhilafahan tersebut sebagai tanda kekuasaan islam yang nyata di muka bumi.
Pelayanan-pelayanan disuplay oleh komplek lembaga yang melakukan hubungan untuk pertumbuhan populasi yang baik sesuai dengan kebutuhan dan harapan. Kota besar utsmaniyah dengan populasinya yang berjumlah sekitar ratusan ribu telah meningkat menjadi kota terbesar (terhebat) di seluruh wilayah mediterania. Setiap seperempat kota memiliki komplek lembaga sendiri-sendiri, yang pada kehidupan sosial, lembaga tersebut difokuskan, tapi tidak satupun yang melebihi besarnya komplek Sulaiman. Komplek itu memiliki 800 pekerja, beberapa dari mereka diarahkan pada pendidikan dan penelitian, sementara yang lain ditempatkan di rumah sakit, dapur untuk kaum miskin atau rumah penginapan. Pemasukan tahunan lembaga tersebut mendekati satu juta akse (mata uang perak). Jenis uang ini diambil dari 217 desa dan 30 lahan milik desa (umum), yang dimiliki oleh lembaga diantara sumber-sumber lainnya.
Istana tersebut memelihara gedung kantor manajemen, dibawah konsultasi sang Khalifah, merencanakan dan menatap proyek-proyek gedung yang bervariasi, menggambarkan estimasi biaya, memutuskan bagaimana mengkalkulasi biaya tenaga kerja dan materialnya, mendapatkan material-material gedung, dan mengorganisir kerjanya. Operasi Mamoth (operasi yang sangat besar) ini telah dikontrol oleh pengeluaran birokratis yang besar dan dikembangkan dengan cepat. Dalam kasus komplek Sulaiman, proses pembangunannya didokumentasikan dalam buku laporan, yang direkam seluruhnya secara detail dari aspek pembangunan yang bervariasi hingga perlengkapan 30 naskah baru untuk pembacaan al-qur’an.
Para pekerja manualnya, secara kasar jumlah orang islam dan kristennya adalah sama, mereka direkrut dari Istanbul dan wilayah-wilayah lainnya untuk kemudian diorganisir menjadi tukang yang terkualifikasi dan pekerja tanpa skill. Pada musim panas, di sana seringkali ada lebih dari 3000 pekerja yang dikerjakan pada wilayah tersebut, termasuk semua tukang batu dan pekerja membuat dinding, yang bekerja dalam kelompook-kelompok kecil pada tugas-tugas tertentu. Militer dengan janissaris muda dari rekrutmen atau dari boy harvest yang diorganisir untuk mengerjakan semua jenis pekerjaan pendukung, yakni penjagaan, transportasi muatan-muatan berat, dan pekerja di tambang.
Usaha mendapatkan material-material memenuhi bagian yang lebih besar pada buku laporan. Sementara gumpalan-gumpalan phorphyritic, granit dan marmer datang dari gedung byzantium yang lama yang telah digunakan kembali dan batuan-batuan yang bahkan dibawa dari kuil roma di alexandria (mesir) dan baalbek (libanon), batu kapur (beige) yang berwarna datang banyak sekali dari tambang di atas laut marmara. Memuat muatan-muatan dengan perahu besar yang beratnya berton-ton bebatuan granit setinggi 9 meter (30 ft) dari lengkungan selasar di dalam mesjid Sulaiman yang beratnya sekitar 28 ton-30 ton merupakan petualangan itu sendiri. Besi untuk pola-pola geometris jendela untuk mengunci blok bebatuan bersama-sama, dan menuju atap-atap dan kubah-kubah yang memang dibawa dari balkan. Kaca jendela yang berwarna yang telah lama berada di dinding kiblat, diimport dari venice dan dipasang di wilayah tersebut oleh para tukang kaca lokal. Karpet-karpetnya didatangkan dari pusat anatoli barat dan dari kairo, dan lapisan karpetnya didatangkan dari mesir dan sudan.
Dekorasi ubin mesjid telah dsuplai dari kota anatoli sebelah barat selatan yakni iznik yang ruang kerja tembikarnya telah menjadi terkenal karena bejana keramik buatan mereka yang dilapisi dengan cairan kaca. Proses ini meniru keramik putih yang keras dan kobalt biru yang dilapisi kaca dari porselen eksport bangsa china dan telah memperkaya motif-motif perkamen bernuansa floral dan awan milik bangsa timur. Sementara mengatasi dekorasi yang menunjukkan kepada Allah, medali-medali di sisinya tertulis surat al-fatihah, yang selalu dibaca setiap hari pada saat shalat dalam naskah yang mulia dengan cetakan yang sangat panjang.khaligrafi yang mengesankan tersebut merupakan desain khaligrafer terkemuka Ahmed Karahisari. Medali-medali ini berasal dari studio iznik menuntut skill yang luar biasa, sebagai naskah pada masing-masing lahan termasuk 64 ubin-ubin di halaman, yang masing-masingnya menunjukkan satu bagian kecil dari naskah yang berkaitan dengan jari-jari lingkaran. Untuk pertamakalinya komposisi ini disamping tone biru yang halus juga menunjukkan warna tomat yang terang kemerahan yang dihasilkan dari besi berharga armenia dan menyediakan percikan warna yang menarik perhatian pada background putihnya. Dalam meusoleum Sulaiman dan Hurrem, dekorasi ubinnya dengan sulur yang beraroma bunga menyebar di seluruh permukaan , yang menimbulkan citarasa kemegahan.
Sketsa dari halaman studio mendorong pelukis ubin, yang telah memulai dengan ubin berwarna biru dan putih untuk gedung-gedung di edirne untuk menghasilkan komposisi banyak hiasan yang diciptakan dengan efek yang mengagumkan. (tersusun dari ubin-ubin yang banyak dengan ukuran 26 cm atau 10 ”). Dengan adanya itu semua menunjukkan jenis bunga-bunga yang tertanam di kebun utsmaniyah seperti tulip, anyelir, mawar, ranounculi dan bunga bakung yang telah ditemukan dengan penuh kesuburan yang disusun secara simetrik, membentuk background yang megah. Bagian natural, bagian dekorasi tumbuhan yang fantastik, yang megah penuh kemegahan dipertinggi atau ditonjolkan dengan adanya kaca-kaca yang jernih yang seakan-akan mampu membawa orang-orang beriman pada masa itu menuju kebun-kebun syurga yang telah dijanjikan bagi mereka dalam al-qur’an dan dalam naskah al-qur’an di mesjid Sulaiman.

Teknologi Bangunan
Mesjid ini hampir dua kali ukuran mesjid shehzed yang terletak di tengah halaman berpagar setinggi 216 meter (718 ft) dan selebar 114 meter (472 ft). sang arsitek telah mengadopsi struktur kubah dengan dua setengah sisi kubah pojok kecil dan dinding-dinding cabang berkorden dari hagia sofia di ilhami oleh kolom-kolom rangkap yang besar.
Pada eksteriornya terdapat dua tingkat gedung bergaya hypostyle. Dengan dinding bertirai, bangunan besarnya dihiasi oleh barisan jendela. Bagian depan halamannya terdapat air mancur untuk berwudhu. Di tengah gerbang yang luar biasa besar dengan tympanum yang di bingkai dengan setengah tiang dan empat menara pada pojoknya, yang menemani kemegahan kubah dengan tingginya yang sekitar 70 meter (230 ft). Gedung-gedung itu banyak muncul secara bertahap dengan model yang penuh karakteristik mulai dari kubah pusat yang mencolok pada balai masuk di seluruh setengah bagian kubah dan di pojok kubah yang menguatkan pilar, naik ke atas menuju kubah dasar dengan dinding penopang yang terlihat dengan jelas. Kubah ini membanggakan diameternya sepanjang 26,5 meter (87 ft) dan puncak yang setinggi hampir 48 meter (157 ft). Menyepuh hiasan dengan simbol islami berupa bulan tsabit yang berkelip dari kubah dan minaret-minaret.
Mesjid Sulaiman berdiri sendiri dengan halaman dalam (sahn) yang dikelilingi 4 minaret setinggi 110 meter dengan 4 tingkatan. Hal itu menjadi vocal point dari halaman tertutup dengan dinding. Mesjid sulaiman merupakan mesjid pertama yang menggunakan minaret 4 buah. Setiap tingkat pada menara ditandai dengan cincin yang melingkari minaret. Dan keempatnya sangat tinggi dengan atap runcing seperti ujung pensil khas Ottoman atau biasanya sering disebut Ottoman needle minaret. Di sisi yang sama sebagai halaman gedung-gedung yayasan disusun pada sudut pandang yang benar. Gedung-gedung ini dengan barisan kubah mereka yang di kelompokkan di sekitar halaman bagian dalam (sahn). Komplek lembaga tersebut menunjukkan penampilan seragam dan seimbang, termasuk variasi gedung-gedungnya.
Sepanjang perayaan model yang besar dan memiliki model arsitektural yang terkenal dari kebangkitan kembali italia telah dibawa oleh kekuasaan yang penuh dalam proses untuk kemajuan (perbaikan) besar-besaran sebagaimana di tunjukkan dalam miniatur dari ”The Surname” yang ditulis pada tahun 1502. Hal ini dibuktikan dengan adanya bentuk kubah yang terinspirasi dari model arsitektur byzantium yang yang cukup terkenal. Salah satunya adalah hagia sofia. Penyusunan kubah pada mesjid sulaiman diambil dari hagia sofia, tapi lengkungan 2 warnanya yang besar mengangkat kubahnya di atas cakrawala yang terbuka menciptakan kondisi terang. Lengkungan-lengkungan ini berada di sebelah struktur korbel yang menonjol mengelilingi seluruh ruang kosong dan memisahkan bidang kubah dari kedalaman yang paling bawah. Pemandangan dari sisi selatan komplek sulaiman di seluruh atap madrasah-madrasah, dimana dinding bertirainya dengan jendela mendobrak garis struktur kubah. Lengkung dinding yang menanjak yang disusun di antara kolom-kolom menara dengan kubah palsu mereka membawa berat utama kubah. Lengkungan ini ditonjolkan seperti dinding-dinding di sisi ruangan kubah bagian bawah. Pembukaan-pembukaan menuju loggias dapat dilihat di antara kolom-kolom yang mendukung separo kubahnya.
Dalam proporsinya, mesjid itu melebihi seluruh bangunan utama Islam dimasa lalu dan menjadi imbangan bagi hagia sofia di city scape, meskipun itu tidak mencapai ukuran bangunan kubah berdiameter 31,9 meter (107 ft), tinggi 56,2 meter (184 ft). Sementara bangunan byzantium memiliki pengaruh yang misterius dengan dengan lampu yang menyorot kedalam wilayah kubah di sekeliling pusat ruang kosong ( celah ) yang pucat, gedung ustmaniyah bersinar dari lantai hingga kubah dengan ukuran yang sama, yang meyakinkan pada kelogisan dan ke jelasannya. Hal inilah yang meyakinkan bahwa arsitektur pada masa utsmaniyah memberikan sinar baru sangat berbeda dengan arsitektur byzantium.

Susunan ruang dan tatanan massa
Kompleks yang diberi nama Suleymaniye ini denahnya tersusun rapi, teratur berderet semua sejajar dan searah, mesjidnya di tengah. Semua unit dalam kompleks termasuk mesjid berarsitektur Hypostyle. Halaman dalam atau sahn, ada yang berdenah segi empat panjang dan ada yang bujur sangkar. Di sudut utara-barat dari kompleks terdapat rumah sakit atau darussifa dan sekolah tinggi medis. Inilah salah satu kemajuan yang terjadi pada masa itu. Berdampingan di sebelah barat rumah sakit berjejer berturut-turut imaret yaitu dapur untuk memasak sup untuk kaum miskin atau penginapan pengelolaannya menyatu dengan unit lainnya dalam kompleks.
Di dalamnya terdapat juga madrasah-madrasah yang penurut piagam telah berkontribusi untuk keagungan agama dan ilmu-ilmu pengetahuan keagamaan sebaik kuatnya otoritas duniawi. Para sarjana pada masa itu dulu, dari madrasah-madrasah sebenarnya terpanggil ke istana untuk mengadakan diskusi reguler.madrasah terletah di sebelah selatan rumah sakit sejajar dengan mesjid, berturut-turut madrasah berbeda aliran tingkatan atau jurusan: Madrasah Tip, Madrasah Sani, Madrasal Evvel. Di ujung selatan deretan madrasah terdapat sibyan (sekolah membaca al-qur’an khusus untuk anak laki-laki). Beberapa meter di selatan-barat sibyan ada taksim yaitu bangunan untuk mengatur pembagian air dalam suatu bagian kota.
Mesjid berada di tengah dikelilingi pagar segi empat panjang mengikuti denah mesjidnya dan halaman terbentuk menjadi huruf U mengelilingi mesjid dan makam di sebelah selatan masjid. tergabung dalam komplek Sulaiman adalah mausoleums Sulaiman dan istrinya Hurrem, yang dibangun pada tahun 1556 dan 1558 yang terletak tepat di belakang dinding kiblat mesjid yang di kuatkan dengan dinding penopang yang kuat.. Keduanya berdenah hexagonal sama dengan hampir semua mausoleums yang ada.mausoleum ini juga dipagari. Turbe (mausoleums) Suleyman lebih besar dari lainnya. Tepat pada sumbu bila di tarik garis dari sumbu tengah mesjid ke arah kiblat di ujung selatan terdapat kamar penjaga turbe. Di sebelah barat mesjid terdapat dua unit bangunan kembar, masing-masing menyatu , yang di selatan madrasah salis di utara Madrasah Rabi. Di selatan terdapat dua unit yang letaknya tidak sejajar dengan dinding bangunan lainnya, satu untuk sekolah hadist, lainnya untuk hamam atam tempat mandi Turki.
Bentuk dan tata ruang mesjid identik dengan mesjid sehzade, namun dalam ukuran lebih besar. Secara keseluruhan merupakan gabungan konsep Hypostyle dengan gaya arsitektur Byzantine. Mesjid juga mempunyai daun pintu samping pada haram dan sahn, bahkan pada haram masing-masing sisi mempunyai dua pintu masuk. Konstruksinya sangat khas Turki Ottoman dari batu sangat tebal sehingga kelihatan seperti candi-candi di Jawa. Denah ruang sembahyang utama atau haram, bujur sangkar di tengah dalam posisi titik sudut sebuah bujur sangkar di tengah dalam posisi titik sudut bujur sangkar pula berdiri kolom sangat besar, menyangga kubah utama sama dengan di Mesjid sehzade. Interiornya di perpanjang hingga ruang masuk dan ibadah diberikan ukuran lebar yang lebih pada poros garis lintang melalui tambahan galeri di sisi yang lain selasar yang becabang tiga.Ruang depan (arah kiblat) dan belakang dari sahn atau utara-selatan masing-masing diatapi oleh setengah kubah dan atap setengah kubah tersebut pada sudutnya terdapat lagi atap setengah kubah, tetapi lebih kecil.
Batasan tanah lapang yang bertiangkan kubah mendominasi interior mesjid. Dimensi yang membujur ditonjolkan dengan tirai-tirai dinding yang terdapat di barisan kolom-kolom tersebut dan bersambung dengan sisi-sisi gedung dan wilayah-wilayah mihrab yang diperpanjang hampir setengah kubah. Dinding kiblat menunjukkan tiga pihak struktur tersebut yang bisa dilihat seluruhnya. Area berubin di sini adalah yang pertamakalinya mengelilingi tempat ibadah dari marmer. Di sisi kanannya terletak mimbar dari marmer untuk khatib dan panggung untuk shalawatan.

Dekorasi dan Ornamentasi
Dekorasi ubin mesjid telah dsuplai dari kota anatoli sebelah barat selatan yakni iznik yang ruang kerja tembikarnya telah menjadi terkenal karena bejana keramik buatan mereka yang dilapisi dengan cairan kaca. Proses ini meniru keramik putih yang keras dan kobalt biru yang dilapisi kaca dari porselen eksport bangsa china dan telah memperkaya motif-motif perkamen bernuansa floral dan awan milik bangsa timur. 30 cm (12”) lampu-lampu yang tergantung pada komplek lembaga bayazid II adalah diantara kreasi mereka yang luar biasa. Dekorasi ubin di Mesjid Sulaiman hanyalah satu bukti dari kebesaran tersebut. Terpisah dari jendela lunett, pada dinding kiblat terdapat papan polycrome yang melengkapi mihrab yang terbuat dari marmer. Sementara mengatasi dekorasi yang menunjukkan kepada Allah, medali-medali di sisinya tertulis surat al-fatihah, yang selalu dibaca setiap hari pada saat shalat dalam naskah yang mulia dengan cetakan yang sangat panjang.khaligrafi yang mengesankan tersebut merupakan desain khaligrafer terkemuka Ahmed Karahisari. Medali-medali ini berasal dari studio iznik menuntut skill yang luar biasa, sebagai naskah pada masing-masing lahan termasuk 64 ubin-ubin di halaman, yang masin-masingnya menunjukkan satu bagian kecil dari naskah yang berkaitan dengan jari-jari lingkaran. Untuk pertamakalinya komposisi ini disamping tone biru yang halus juga menunjukkan warna tomat yang terang kemerahan yang dihasilkan dari besi berharga armenia dan menyediakan percikan warna yang menarik perhatian pada background putihnya. Dalam meusoleum Sulaiman dan Hurrem, dekorasi ubinnya dengan sulur yang beraroma bunga menyebar di seluruh permukaan , yang menimbulkan cita rasa kemegahan. Bagian natural, bagian dekorasi tumbuhan yang fantastik.
Besi untuk pola-pola geometris jendela untuk mengunci blok bebatuan bersama-sama, dan menuju atap-atap dan kubah-kubah yang memang dibawa dari balkan. Kaca jendela yang berwarna yang telah lama berada di dinding kiblat, diimport dari venice dan dipasang di wilayah tersebut oleh para tukang kaca lokal. Karpet-karpetnya didatangkan dari pusat anatoli barat dan dari kairo, dan lapisan karpetnya didatangkan dari mesir dan sudan.
Pada interior banyak terdapat lampu-lampu yang digantung dengan besi agar memudahkan pemeliharaannya disamping penerangannya lebih efektif. Pada daun pintu-pintu di mesjid sulaiman juga memakai hiasan/ukiran yang terdiri dari jalinan garis-garis geometris membentuk pola geometris atau biasa disebut dengan intricate. Selain itu, pada pintu masuk utama juga terdapat kubah muqarnas sebagai penghias pintu masuk utama. Tiap Kolom dan monaret menggunakan Muqarnas pada pangkal pelengkungnya.

Makna-makna dan Nilai-nilai yang terkandung
khalifah sebagai penguasa dunia dan peranannya sebagai pelindung islam begitu menonjol dalam prasasti di seluruh gerbang utama masjid , yang menonjol dengan adanya kubah muqarnas. Hal itu ditulis oleh hakim senior dan sarjana legal sulaiman yakni syaihul islam yang memiliki bacaan al quran surat al anam setiap harinya yang di mulai dengan pujian terhadap yang maha kuasa dan berakhir dengan otorisasi yang hebat dari sebuah kekuasaan duniawi; ”dan dialah yang menunjukmu untuk menguasai dunia ”. Masjid sulaiman membentuk simbol yang nyata kekuasaan duniawi kekhilafahan utsmaniyah
lengkungan 2 warnanya yang besar mengangkat kubahnya di atas cakrawala yang terbuka menciptakan kondisi terang. Lengkungan-lengkungan ini berada di sebelah struktur korbel yang menonjol mengelilingi seluruh ruang kosong dan memisahkan bidang kubah dari kedalaman yang paling bawah. Dengan penyelesaian warna birunya yang masih asli di dalam kubahnya, yang membuat orang yang berada di dalam sana mampu melihat cakrawala tanpa batas.
Bagian natural, bagian dekorasi tumbuhan yang fantastik, yang megah penuh kemegahan dipertinggi atau ditonjolkan dengan adanya kaca-kaca yang jernih yang seakan-akan mampu membawa orang-orang beriman pada masa itu menuju kebun-kebun syurga yang telah dijanjikan bagi mereka dalam al-qur’an dan dalam naskah al-qur’an di mesjid Sulaiman.

SURAT CINTA UNTUK JIWA

Surat ini kutunjukan untuk diriku sendiri serta saudara – saudariku yang Insya Allah tetap mencintai Allah dan rasul – Nya di atas segalanya, cinta hakiki yang membuat manusia melihat segalanya dari sudut pandang yang berbeda, lebih bermakna dan indah.

Surat ini kutunjukan untuk hatiku dan hati saudara / I –ku yang kerap kali terisi oleh cinta selain – Nya, yang mudah sekali terlena oleh indahnya Dunia, yang terkadang melakukan segalanya bukan karena – Nya, lalu diruang hatinya yang kelam merasa senang jika dilihat dan dipuji orang, entah dimana keikhlasan. Maka saat ini kurasakan kekecewaan dan kelelahan karena yang kulalukan tidak sepanuhnya berlandaskan keikhlasan, padahal Allah tidak pernah menanyakan hasil, Dia akan melihat kesungguhan dalam berproses.

Surat ini kutunjukan untuk jiwaku dan jiwa saudara /I –ku yang mulai lelah menapaki jalan –nya ketika seringkali mengeluh, merasa terbebani bahkan terpaksa untuk menjalankan tugas yang sangat mulia, padahal tiada kesakitan, kelelahan serta kepayahan yang dirasakan oleh seorang hamba melainkan Allah akan mengampuni dosa –dosanya.

Surat ini kutunjukan untuk ruh – ku dan ruh saudara / I ku yang mulai terkikis oleh dunia yang menipu, serta membiakan fitrahnya tertutup oleh maksiat yang dinikmati, lalu dimanakah kejujuran diletakkan ?! dan kini terabaikan sudah secara nurni yang bersih, saat ibadah hanyalah rutinitas belaka, saat fisik dan fikiran disibukan oleh Dunia, saat wajah menampakan kebahagian yang semu, coba lihat hatimu menangis, tertawa dan merana??!

Surat ini kutunjukan untuk diriku dan saudara / I –ku yang sombong, yang terkadang bangga dengan dirinya sediri. Sungguh tiada satupun yang membuat kita lebih dihadapan – Nya selain ketakwaan, padahal kita menyadari bahwa tiap – tiap jiwa akan merasakan mati, namun kita masih bergulat terus dengan kefanaan.

Surat ini kutunjukan untuk hatiku dan hati saudara / I –ku yang mulai mati, saat tiada getar ketika asma Allah disebut, saat tiada sesal ketika kebaikan terlewatkan begitu saja, dan saat tiada rasa dosa ketika menzhalimi diri dan saudaranya.

Akhirnya surat ini kutunjukan untuk jiwa yang masih memiliki cahaya meskipun sedikit, jangan birkan cahaya itu padam. Maka terus kumpulkan cahaya itu hingga ia dapat menerangi wajah – wajah disekelilingnya, memberikan keindahan Islam yang sesungguhnya hanya dengan kekuatan dari – Nya.

“Adakah hari – hari yang mungkin aku bisa lari dari maut, hari yang ditentukan, dan yang tidak ditentukan. Hari yang tidak ditetapkan, akupun tak gentar dan hari yang ditentukan – pun aku tak kuasa menghindarinya. Dari para syuhada yang gugur yang tak kau pedulikan. Maka sesungguhnya engkau walau meminta penundaan meski sehari atas ajal yang ditetapkan padamu, tentu ia takkan mau karena itu bersabarlah saat menhadapi kematian karena mengarapkan keadilan adalah mustahil.”

“ya…. Allah yang maha membolak –balikan hati, tetapkan hati ini pada agama – mu, pada ta’atnya beribadah kepada – mu dan da’wah dijalan –mu.”

Akhwat sejati

Akhwat sejati

Seorang akhwat sejati bukanlah dilihat dari kecantikan paras wajahnya
Tetapi dilihat dari kecantikan hati yang ada dibaliknya

Akhwat sejati bukan dilihat dari bentuk tubuhnya yang mempesona
Tapi sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya

Akhwat sejati bukan dilihat dari begitu banyaknya kebaikan yang ia berikan
Tapi dari keikhlasannya memberikan kebaikan itu

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya,
Tapi dilihat dari apa yang sering dibicarakan mulutnya

Akhwat sejati bukan dilihat dari keahliannya berbahasa
Tapi dilihat dari bagaimana caranya berbicara

Akhwat sejati bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian
Tapi dilihat dari sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya

Akhwat sejati bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang di jalan
Tapi dilihat dari kekhawatiran dirinyalah yang mengundang orang jadi tergoda

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang ia jalani
Tapi dilihat dari sejauh mana ia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa syukur

Akhwat sejati bukan dilihat dari sifat supelnya dalam bergaul
Tetapi dilihat dari sejauh mana ia bisa menjaga kehormatannya dalam bergaul….